Masa sekolah adalah masa yang indah. Dengan catatan, tidak ada matematika, fisika dan kimia. Apalagi ditambah dengan guru galak dengan kumis melintang seperti gatot kaca, walaupun ngak bisa terbang.
I know, judul gue untuk postingan ini terlalu kejam dan frontal. Apalagi tidak didukung oleh hasil penelitian yang mumpuni untuk mendukung analisa gue. Namun ngak ada salahnya tulisan ini kalian baca terlebih dahulu.
kalau menurut kalian gue salah, kalian boleh lempar gue pake sandal. Tapi kalo ada benarnya, duit 10 rebuan juga gak apa-apa. huhuhuhu
Postingan kali ini, saya ingin menjadi seorang pengamat dunia pendidikan.
OK, lets do it....!!!
Keberadaan sekolah yang ada saat ini telah jauh melenceng dari apa yang seharusnya menjadi tujuan dari "belajar" itu sendiri. Katanya sih belajar itu proses dari tidak tahu menjadi tahu. Dan tolok ukurnya adalah memanusiakan manusia.
#kren banget nih kata-kata, minjam di buku.
Namun, apa benar itu sudah terjadi?
Menurut gue itu sudah terjadi. Di sekolah kita tidak tahu tentang kalkulus, eh setelah belajar kita menjadi tahu. Awalnya ngak bisa tentang struktur atom, eh setelah belajar jadi bisa.
SETUJU banget...!!!
Lalu yang jadi masalah apaan uzumaki???
Masalahnya adalah, apa yang diajarkan di sekolah adalah sesuatu yang tidak terlalu penting bagi seorang anak untuk menghadapi masa depan.
Berani banget elo bilang gitu Uzumaki, ngak takut dimarahi oleh Menteri Pendidikan?
Ngapain takut, beliau ngurus soal ujian aja ngak bisa. *upzzzzzz
---
Di sekolah kita diajarkan untuk menjadi manusia SUPER. Bisa segala hal, jago matematika, fisika dan sekaligus bisa bahasa asing dengan baik. Karena semua mendapat porsi yang sama dalam jumlah jam pelajaran.
Walau kenyataannya adalah, itu adalah hal paling mustahil di dunia ini. Hampir tak ada orang jenius dalam berbagai bidang sekaligus.
Di sekolah terjadi pembunuhan setiap hari, pembunuhan terhadap kreativitas siswa. Seingatku banyak jenius dalam bidang seni yang akhirnya jadi guru matematika hanya karena mengikuti tuntutan sekolah tentang harus mendapat nilai bagus di ujian matematika.
Pun juga orang-orang berbakat sepak bola berakhir menjadi akuntan atau guru biologi, karena kesalahan sistem pendidikan kita yang mengkasifikasikan orang "jika ngak bisa matematika berarti bodoh".
Apa yang diajarkan di sekolah adalah hal "mudah" bin "gampang". ngak percaya? mari kita buktikan.
Seandaikan kita tidak pernah belajar matematika, kalau diberikan kalkulator pasti bisa menghitung. Ngak butuh rumus-rumus kalkulus yang bikin otak jadi keriting itu.
Tapi, kalau orang ngak pernah lihat biola, ngak mungkin orang bisa memainkan biola.
Kalau orang ngak tahu tentang SEJARAH, orang bisa buka google, langsung tahu. Tapi, kalau orang ngak pernah pegang pensil, ngak mungkin bisa menggambar.
Tengoklah bukti orang-orang yang sukses justru dalam bidang-bidang yang tidak diajarkan di sekolah. Pesulap, pembalap, panyanyi atau bahkan pelawak. Mereka adalah orang-orang yang terus dikenal oleh banyak orang karena memilih berbeda.
Dan tentu saja, keahlian mereka itu tak didapatkan di SEKOLAH.
Lalu apa yang menjadi masalah?
Hal-hal yang justru penting bagi masa depan anak hanya dijadikan sebagai ekskul, bukan pelaran utama. Misalnya Seni tari, basket, sepak bola, menggambar, dll.
Padahal dalam kehidupan nyata, hal-hal itu sangat berguna sebagai sebuah pekerjaan. Dan yang terjadi adalah sebaliknya, di sekolah, hal-hal penting ini hanya diberikan porsi yang sangat sedikit.
Padahal kreativitas itu harus dilepas seperti anak ayam, dibiarkan terbentur dengan masalah sebebas-bebasnya. Tentu saja, kreativitas itu tak mudah ditemukan. Lalu mengapa kita biarkan sekolah mematikan kreativitas seorang anak? begitu naifnya kita.
Kenapa pelajaran-pelajaran "mudah" diajarkan di sekolah?
Memang hanya itulah yang bisa dilakukan oleh sekolah, karena itu adalah hal yang mudah. Sekolah tak mampu mengajarkan hal-hal sulit seperti yang saya sebutkan di atas.
Akhirnya saya ingin bilang; jika setiap anak diberikan pilihan apakah ingin sekolah atau tidak? gue yakin semua akan berkata TIDAK.
Sekolah tak lebih dari sekedar kandang-kandang bersekat yang dijaga oleh penggembala galak dengan kumis yang tebal.
Jika ingin sukses, jangan pergi ke sekolah.
[END]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar