Beberapa waktu yang lalu gue menonoton sebuah film. Kalo boleh jujur film itu sedikit merubah cara pandang gue terhadap hidup ini.
Tebak ayo...!!!
apanya yang mau ditebak bang, clue-nya gak ada sama sekali.
hahahahaha, sorry sorry...!!!
gue yang bego ato elu yang bego ya???
yups, ini gue ceritain deh biar otak elu gak keriting kelamaan mikir.
Filmnya berjudul Into The Wild,
Menurut gue cerita film ini sangat tidak biasa. Katanya diangkat dari kisah nyata Christopher Alexander MacCandleS. Memilih meninggalkan semua materi yang dia miliki untuk mengejar sebuah ketenangan dan mencari sebuah kebahagiaan. Dia merubah namanya menjadi Alexander SuperTramp.
Meninggalkan rumah, keluarga, harta, demi cita-cita untuk bisa tinggal di Alaska. Kembali ke jaman batu, no money, no girl and no materi. Katanya "karir itu diciptakan pada abad 20" jadi buat apa mengejarnya. Sungguh cara fikir yang tak biasa.
Mungkin kita akan berkata, "ah, bego elu, udah gila lu". Tapi kalimat itu bisa dimentahkan dengan mudah, mengingat Alex adalah lulusan terbaik, nilai selalu A, tabungan banyak, orang tua sukses kaya raya. Mungkin saja, karir udah meaningless baginya.
Nah,,, kebetulan banget teman gua bikin status di Facebook, "Bahagia itu saat kita saling berbagi". Pas banget, di dalam film itu, si Alexander menulis kalimat itu sebagai kesimpulan sebelum dia meninggal.
Sontak gue berfikir, jangan-jangan teman gue udah pernah tinggal di Alaska selama 2 tahun terus menemukan kesimpulan itu. KAGUM GUE.
Atau jangan-jangan dialah yang menemukan jasad Alex dan membaca catatannya. Sungguh, teman gue luar biasa.
hehehehehe, hebatkan proses berfikir gue.
"uang membuat kita terlalu berhati-hati" begitu kata Alex ketika ditanya mengapa dia meninggalkan hidupnya yang banyak diidamkan orang.
Tidak sepenuhnya benar, memang uang bukan segalanya atau uang gak bisa dibawa mati. Tapi gak ada uang rasanya mau mati.
Itu kalimat tetangga gue.
Alek membakar semua ID Card, ATM, uang, meninggalakan mobilnya untuk hidup di alam liar.
Sontak gue berfikir tentang hidup gue dan orang kebanyakan sekarang ini, tentang dunia maya, facebook, twitter dan saudara-saudaranya justru membuat kita anti sosial. Kita terus mengejar materi dan berharap bisa bahagia setelahnya. Tapi justru seperti analogi meminum air laut, semakin banyak kita minum semakin hauslah kita.
Kita tak lagi banyak menghabiskan banyak waktu berkualitas bersama dengan kelurga dan orang-orang yang kita sayangi.
Ngomong opo iki.... Melenceng oy...
Biarin...
*****
Beberapa pengalaman Alex dari film ini membuat gue gak bisa tidur, sumpah. Misalnya Alex bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Tracy, diperankan oleh calon isteri masa depan gue Kristen Stewart. *ngarep sampe mati.
Sama-sama suka, tak mau melampaui batas dan merusak rasa cinta mereka. Laki banget tu cowok.
Pengalaman selama dua tahunpun tidak kalah menarik, bertemu dengan banyak orang yang baik dan hebat. Beberapa orang yang telah menemukan kebahagian mereka.
Namun apalah daya, nasib Alex udah digariskan Tuhan. Meninggal karena salah memakan tumbuhan beracun yang dia kira akar kentang. TRAGIS
Padahal gue udah ngarep banget dia akan kembali bertemu dengan Tracy dan semua sahabat yang dia temui selama perjalanan. Tapi apalah daya, seperti petikakan lagu melayu, "jodoh tiada".
Gue coba simpulkan dengan cara berbeda film ini, karena yang membuat resensi udah banyak. Ini film dari tahun 2007. Kalo salah, tolong cubit gue. hehehehe
Kita tak perlu mengalami perjalanan panjang selama dua tahun seperti yang Alex lakukan demi menemukan sebuah kebahagian. Kita bisa belajar dari pengalamannya. Belajar dari pengalaman orang lain adalah pelajaran yang GRATIS. Kita tak perlu melewati rintangan seperti yang orang itu lakukan.
Akhir kata, sayangi orang yang ada di sekitar kita, teruslah berbagi. Sayangi apa yang kita miliki, kita akan tahu rasanya kehilangan setelah itu tak lagi ada bersama kita.
|end|