Semakin banyak kita bertanya dan mengkritisi, akan semakin banyak kita mengenal sosok Kartini. Kartini menjadi lebih "hidup", Tak lagi di-mitoskan sebagai "puteri sejati" tanpa kita fahami benar asal ceritanya. Celakanya, di-mitoskan tanpa difahami membuat sosoknya menjadi semakin "kerdil". Jadi, teruslah bertanya "mengapa harus kartini?".
Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana. Apa hebatnya Kartini? Bukankah ia anak manja? Isteri seorang bangsawan yang sudah beristeri tiga? Tidak merasakan pahit getir perjuangan hidup wanita pada zamannya, semisal Cut Nya' Dien yang maskulin itu.
Tentu, jika dihubungkan dengan defisi emansipasi di era modern ini. Semisal kata sejarawan "wanita yang emansipatoris itu, bukan wanita lembut diam di rumah, wanita santun, ramah penurut, tapi wanita yang tegas lagi kritikal". Sosok Kartini tak masuk sedikitpun dalam kriteria.
Justru disitulah letak menariknya. Mengkerdilkan kehadiran seorang figur historis, tanpa memahami proses dan latar dimana figur itu hidup dan berproses, rasanya juga tidak adil.
Untuk itu saya mulai dengan contoh Soekarno-Hatta, dua sosok Proklamaror kemerdekaan kita. Jika hidup di jaman sekarang, sosok Soekarno akan mendapat banyak cela dan caci. Akan dianggap menjual pidato "kosong", rakyat tak bisa "kenyang" dengan kalimat-kalimat yang menggelora. Namun karena hidup di "zamannya". Sosok Soekarno menjadi penting. Disaat satu-satunya media informasi adalah audio-non visual alias radio. Maka para orator ulung, singa podium mendapat tempat lebih besardi hati rakyat.
Lalu bagaimana dengan Hatta? Hatta yang "dingin" ini dianggap terlalu "rasional". Bahkan sosok yang diberi panggilan "Ayam Gadang Minangkabau" ini, kalah tenar di tanah kelahirannya sendiri Sumatera Barat (waktu itu : Sumatera Tengah) dengan sosok Soekarno. Seandainya sosok Hatta lahir di era ini yang lebih mengedepankan rasionalitas dan moralitas, beliau akan mendapat tempat yang baik di percaturan politik Indonesia. Apalah daya, sayangnya Hatta lahir di era yang berbeda.
Seperti itulah seharusnya kita memposisikan sosok Kartini. Dalam konteks ini, Kartini harus diposisikan dalam ranah sosial budayanya. Ia lahir dalam dinamika hidup feodal murni, bukan kondisi perang mengharu biru yang dialami Cut Nya' Dien.
Cut Nya' Dien dikenal sebagai pemimpin dan pahlawan heroik perjuangan Aceh karena lahir dan bertumbuh dalam ranah sosialnya juga. Karena itu, memahami Kartini dan mencoba membandigkannya dengan sosok Cut Nya' Dien sama halnya membandingan sosok Soekarno dan Hatta. Berbeda.
Mari kita tempatkan Kartini pada masanya. Kartini hidup pada masa feodal jawa abad ke-19. Namun justru kungkungan situasi ini membuatnya sadar ada yang salah dengan kondisi masyarakat jawa pada masa itu berupa kepeduliannya terhadap kaumnya. walau hanya tercermin dalam suratnya yang fenomenal kepada sahabatnya Stella Zeehenlander. Walau hanya berpendidikan SD, rupanya pemikiran Kartini jauh melebihi kamar dan halaman rumahnya.
Lalu apa hebatnya surat? apa bisa dibandingkan dengan Cut Nya' Dien yang berperang atau Rahmah el Yunusiyyah tokoh pendidikan Padang yang mendirikan sekolah.
Menurut Karl Mark “Kebenaran sebuah teori bukan terletak pada betul atau tidaknya teori tersebut dari aspek ilmu pengetahuan, akan tetapi terletak pada apakah teori itu menggerakkan orang untuk melakukan perubahan atau tidak".
Nah, surat Kartini kepada orang belanda (dalam bahasa belanda) membuat sebuah "koneksi" langsung kepada belanda (penjajah). Kemudian menjadi "penggerak" atau "penggugah" hati penjajah dalam "melihat" kondisi Hindia Belanda dari perspektif berbeda. Dalam hal ini, tulisan Kartini menjadi semacam miniatur harapan terdalam bangsa terjajah kepada si penjajah. Hal yang tak dilakukan oleh wanita lain pada masa itu.
Semisal berakhirnya perang Vietnam, justru karena beredarnya foto-foto peperangan dari fotografer Internasional yang akhirnya mengakibatkan protes anti perang di Amerikaa dan melahirkan generasi bunga pada masa itu.
Lalu bagaimana dengan kondisi Kartini tidak "melawan" ketika dinikahkan oleh ayahnya dengan bupati Rembang? Tentu dalam perspektif "emansipasi umum", keadaan ini tak bisa disamakan. Lihat lagi posisi historis Kartini dilahirkan. Tidak "melawan" dikarenakan "maenstream" masyarakat pada masa itu tak kuasa untuk dilawan. Selain itu kepatuhan dan penghormatan kepada ayahnya membuat Kartini tak kuasa melawan pada masa itu (lihat kembali kondisi sosial budaya dimana Kartini hidup).
Akhirnya marilah terus mempertanyakan posisi historis seorang pahlawan (mengkritisi), agar tak di-mitoskan tanpa benar-benar kita fahami bagaimana langam, kisahnya hadir. Seperti kata Bung Hatta "karena memitoskan seseorang akan membuat kita menjadi insan yang tidak waras".
Terakhir sekali untuk seluruh wanita Indonesia, Terus berkarya, perjuangan Kartini tidaklah sia-sia.
END

