Surat untuk lelaki yg insya Allah akan jadi Imamku dan Ayah dari anak-anakku Dari ribuan manusia yg berbahagia Aku salah satunya Dari ribuan alasan manusia lain berbahagia Kamulah salah satunya Tuhan menjadikanmu arah untukku mengenal diri Menjadi tempat pulangku Menjadi rumah dan menemani pulasku Kau yang memilih lelah untuk membuatku bahagia Kau yang memilih terluka dan senantiasa berkata 'semuanya baik2 saja' Menemukan hati senyaman ini Menemukan riuh rindu yang meluap sepanjang hari Bulir-bulir bening tak perlu lagi melihat duniaku Cukup suaramu tertawa Seakan memaafkan waktu Aku pun harus begitu Ribuan mil dari ragamu Aku memilih menunggu Ketika kamu pernah berkata 'jangan kemana2' Hanya do'a yg bisa ku kirimkan setiap harinya Berbahagialah Sepertinya halnya aku yg senantiasa bersyukur telah bertemu kamu I U #EW
*****
Aihhhh, siapa sangka si Sipit pandai bersajak. Sampai malu aku dibuatnya dengan kalimat-kalimat ini. Bisa jadi, kau lebih berbakat dariku dalam urusan merangkai kata. Jangan kemana-mana, tetap di situ. Seperti janjiku dalam kalimat sederhana semalam. Menunggulah, sungguh tak merugi orang yang menunggu, faham benar dengan hakikatnya dan tak menerabas batas. to be continued...
Pagi ini, sejak kemarin malah, banyak orang mengungah foto "pray for paris", DP facebook yang diubah dengan warna warni. Entahlah apa maksudnya. Mungkin semacam pernyataan sedih atau berbela sungkawa atas tragedi yang terjadi.
Segala hal kemudian menjadi menarik. Karena tragedi ini kemudian banyak dibanding-bandingkan dengan tragedi di Palestina. Sama-sama tragedi kemanusian, namun Tragedi di Palestina atau Afganistan misalnya tidak mendapat banyak perhatian dari masyarakat Eropa. Itu bedanya.
Kemudian perbandingan ini semakin menjurus lebih jauh ke arah terorisme. Banyak yang kemudian menyesalkan, mengapa media melekatkan kata "terorisme" seolah-olah itu adalah milik Islam?
Okey. Mari kita buka sedikit jendela berfikir kita untuk melihat masalah ini dengan sebuah kalimat "selalu ada orang brengsek di berbagai agama". Entahlah, susah mencara kalimat yang lebih halus.
Adalah hal aneh, melekatkan kata "terorisme" kepada Islam hanya karena kelakuan beberapa orang brengsek yang mengatas namakan agama.
Saya tidak akan ikut latah membandingkan jika agama lain juga terkadang melakukan tindakan teror atau tragedi kemanusiaan. Karena membandingakan dua hal buruk, tidak akan membuat salah satunya menjadi benar.
Daripada sedih atau berbelasungkawa, ada baiknya kita marah. Marah kepada segala bentuk tragedi kemanusiaan yang terjadi di seluruh belahan dunia. Marah tanpa melihat apa agama mereka, tapi karena teror yang dilakukan sebagai manusia.
Pun juga ISIS, perang Irak, Palestina, Afganistan terlalu "luas" untuk diterka dengan secuil pemahaman kita dengan berbagai teori konspirasi.
Kemudian tudingan mengarah kepada Amerika, negara Barat, Israel yang menabuh genderang, menonton orang-orang brengsek tadi menari-nari dalam irama kematian. Ini adalah semacam cara untuk mencari simpati Masyarakat barat untuk kemudian menggunakan uang pajak mereka berperang di Syiria dan Iran nantinya.
Kita harus muak dengan berbagai konspirasi tingkat tinggi yang disuguhkan di depan mata. Namun tak benar-benar kita fahami. Entahlah, memahami teori konspirasi tingkat tinggi ini amatlah memusingkan.
Contoh konspirasi lain, para mujahidin yang berjihad dengan versi mereka tak benar-benar serius berjihad. Jika serius, mereka akan mati-matian di Palestina atau Afganistan. Bukan di tempat-tempat kaya minyak semacam Irak, atau Syiria.
Sekali lagi
Saya sedih, berbelasungkawa, tapi saya lebih muak.
...SKIP
Mari membahas hal lain yang lebih menenangkan, elegi lain di pagi ini. Tarik nafas, hembuskan. Buka PLAYLIST, arahkan kursor ke lagu Payung teduh -Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan. MAINKAN dan mari bernyanyi.
*****
Untukmu, perempuan yang (semoga bisa) ada dalam pelukan.
Pagi ini, bayangan tentang pernikahan menyeruak begitu saja. Seperti mountain rain yang datang di pagi cerah. Bersama dengan teduh dan kemurniannya yang menenangkan. Setelah berlalu, dia membawa semua resah, enyah.
Tentang perempuan yang mau memakai namaku di belakang namanya. Cantiknya nomer dua di dunia, kalah sedikit dengan Pevita Pierce. Namun segera menjadi nomer satu kala ia tersenyum. Perempuan yang memanggilku dengan kata "Abang". Perempuan dengat tekad yang kuat seperti baja, liat seperti tembaga. Namun meneduhkan seperti senja.
Pagi menjadi lebih berseri dengan segelas kopi darinya. Kuminum pelan sembari memperhatikan tiga anak berlarian di depan rumah lantai kayu dengan halaman luas. Sesekali si nomer dua usil menggoda si bungsu yang membuatnya menangis. Kemudian si Sulung menasehati agar jangan pernah membuat perempuan menangis. Si nomer dua meminta maaf dan mereka bermain kembali.
Di halaman yang luas itu ada 3 pohon besar dengan ketinggian berbeda. Itu semacam prasasti, ibunya ingin menanam satu pohon yang bisa berumur ratusan tahun ketika seorang anak lahir. Awalnya aku menggoda, dan dia diam hingga berhari-hari. Kutakatan, menanam pohon kelapa atau mangga mungkin lebih baik. Dia tak setuju dan mencakarku dengan diam. Kejam.
Di sebelah kanan rumah ada garasi kecil, tempat aku membuat beberapa karya dari kayu. Hasil dari belajar keras kepada tukang Amin. Beberapa peralatan masih tergeletak tak dibereskan. Begitupun sisa serutan kayu bertebaran di lantai. Aku janjikan akan membuat dapur baru untuknya.
Niatku melanjutkan kerjaan pagi ini, namun segelas kopi dan senyum si pujaan hati dengan perut buncit yang akan melahirkan si nomer 4 adalah dua kombinasi moment dengan nilai tinggi. Membuat lelaki manapun di dunia ini enggan untuk beranjak.
Imajinasi ini kemudian semakin jauh membawaku dalam lamunan.
Tentang taman yang kudesain sendiri. Sang pujaan hati menanam bunga. Di sampingnya kubuatkan kebun, kutanam berbagai sayuran karena kami berdua penyuka sayuran.
Tentang perempuan yang mungkin sekali-kali akan marah dan menghukumku dalam diam karena perilaku genitku, sehingga pagi berangkat kerja tanpa sarapan. Atau tidur di luar rumah.
Dan di malam hari sebelum gelap mengambil alih dunia dalam hening. Kutatap matanya dengan tanya "apakah engkau bahagia hidup denganku?"
Dia diam dan membalas dengan senyum terbaiknya. Kuartikan "AKU BAHAGIA".
Kawan, bayangan pernikahan, keluarga dan rumah sanggat menenangkan. Bagaimana jika benar terjadi?
Aihhh, membayangkan saja sungguh menenangkan, apalagii jika menjadi nyata.
Apa yang bisa dilakukan seorang junior tanpa senior?
Jawabnnya "tidak ada"
Entahlah
Sejak masa pelatihan, ingin kutinju wajah seorang senior yang mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang mengindikasikan seolah kita tak akan bisa melakukan apapun tanpa "mereka". Kalimat "menjijikan" yang waktu itu menurutku terlalu didewakan dan terlalu dipaksakan untuk kita amini.
Kemudian hari berganti dan gue mulai menyadari bahwa kalimat itu benar adanya. Bukan kalimat "kosong" yang didewakan tanpa benar-benar memiliki makna. Bukan "dogma" yang dipaksakan untuk ditelan walau kita tak begitu mengerti artinya. Ya, kalimat itu benar adanya.
18 bulan sudah gue di Jepang, mengais rejeki di negeri orang sebagai tukang Las. Sebuah pekerjaan yang menurut orang Jepang berada pada tingkatan tertinggi keahlian lapangan yang harus dimiliki. (ini kalimat Senpai, gue mah percaya aja). Sungguh, dengan beratnya pergantian musim, pekerjaan dan kehidupan kerja di Jepang, harus gue akui bahwa keberadaan seorang senior sangatlah penting.
Tanpa mereka, entahlah, mungkin kita hanyala orang kikuk yang terasing oleh zaman. Tanpa mereka, entah bagaimana caranya kita bertahan. Dan sebagai lelaki harus gue akui, keberadaan senior sungguh sangat penting. Mereka adalah jangkar dalam permainan American footbal, atau pemain tengah dalam sebuah tim bola. Mereka adalah segalanya.
Bahasan berat
Nangis di pojokan,,, hehehe
***
Anyway
Gue punya 3 ekor senior yang hari ini masih bertahan, tinggal mengitung hari menuju hari kepulangan ke Indonesia karena masa bakti (red : pertarungan) di Jepang hampir berakhir. Tulisan singkat ini adalah sebuah persembahan untuk mereka. Semoga persaudaraan ini akan abadi selamanya dan tak ada yang akan saling melupakan.
Senior yang baru gue kenal sekitar 1 tahun lalu. Sebelumnya bekerja di cabang lain perusahaan di kota Ota. Berkulit putih, tinggi dan berat badan proporsional. Jenis lelaki yang bisa membuat perempuan teriak histeris (dianggap maling jemuran). Konon menurut "news bird", dia masih bergaris keturunan dengan prajurit China yang dibawa oleh Laksama Cheng ho waktu mendarat di Semarang. Entahlah.
Jenis lelaki loyal dan sayang keluarga. Sangat mudah tersentuh jika berbicara tentang keluarga. Tentang kakaknya yang tidak sabar menikah padahal dia ingin berada di acara itu. Tentang ibunya, perempuan terbaik yang pernah dia miliki. Matanya selalu berkaca-kaca jika membahas keluarga.
Satu hal yang aku fahami, bahwa lelaki loyal cenderung pendendam menurut beberapa teori psikologi. Entahlah.
Aku pernah berkata kepadanya mengutip kalimat Yohanes Saputra yang wajahnya tak pernah ku kenal. Kubilang; hasil adalah bagaimana kita memperlakukan keadaan.
Kulanjutkan teoriku, kita boleh saja diprogram yang sama, jenis pekerjaan sama, waktu yg sama dan bahkan mendapat perlakuan yang sama. Tapi hasil yang akan kita peroleh setelah 3 tahun belum tentu sama. Tergantung bagaimana kita memberikan perlakuan terhadap keadaan yang kita hadapi.
Entahlah, dia takzim mendengar, dan tak kufahami artinya. Bisa saja dia berkata "bocah ini banyak sekali teorinya"
Super sekali...
hihihi
Dwi
Ini senior yang harus bertanggung jawab terhadap banyaknya tindakan nekat. Karena pertama kali gue mengenal istilah "tiket multi akiba" dari dia. Walaupun kemudian dia berkilah tak pernah mengajarkan hal buruk itu.
Hey... belajarkan kan juga bisa dari melihat...
Senpai pertama yang membawa gue jalan ke Tokyo dan mentraktir makan di Sukiya. Harga yang cukup mahal waktu itu untuk kantong orang Indonesia. Walau sekarang akhirnya gue sadari, SUKIYA adalah makanan kelas warteg di Indonesia. hehe
Arigato
Jenis lelaki yang mudah "melebur" dengan keadaan. Mimik muka yang dibentuk sedemikian rupa, ekspresi "antusias" yang tentahlah mungkin saja dibuat-buat. Anyway, orang ini pendengar yang baik. Kadang kita berdebat tentang bagaimana cara mencari pasangan hidup, tentang sosial politik, apa saja yang penting bisa diperdebatkan.
Terakhir kami berdebat soal haram atau tidaknya rokok. Entahlah, dia selalu bertahan dengan argumen "banyak ustadz yang merokok". Dan gue bertahan dengan argumen "rokok haram karena menyebabakan banyak penyakit".
Anyway, sampai sekarang masih ngerokok.
Susi
Nama lengkap Susianto entah kenapa bisa bertransformansi menjadi Susi. Nama panggilan yang aneh untuk seorang lelaki dengan kulit yang lumayan eksotis. Akibat dari terlalu banyak diasapi oleh mesin las dan debu Grinda. hehe
Jenis lelaki yang tak banyak bicara. dan jenis lelaki seperti ini bisanya adalah adalah orang yang bijak. Entahlah bedanya terlalu tipis antara bijak dengan "tak tahu harus bicara apa". Karena orang bijak selalu tahu kapan harus bicara, bagiku senior yang satu ini cukup bijak.
Pacarnya memanggil dia TOYIP karena 3 kali puasa dan 3 kali lebaran ngak pulang-pulang. Tapi syukurlah "skype"an tetap berjalan. Jadi, rindu masihlah tersampaikan.
Senpai yang dengan gagah menemani petualangan ke Osaka dan Kyoto selama libur musim panas kemarin. Seharian di kereta, hampir bermalam depan stasiun karena ngak tahu harus bermalam dimana. Menjadi pahlawan di detik-detik terakhir karena temannya mau memberikan tumpangan untuk satu malam.
Berdebat soal jalur bis ke Kinkaku-ji yang akhirnya membuat kami berkenalan dengan seorang Ibu-ibu dari Korea. Niat hati biar bisa kenalan dengan anaknya, tapi karena tak cukup keberanian yang terkumpul. Jadilah sepanjang perjalanan bicara dengan emak-emak. hehe
***
Satu hal yang pasti, posisi DAISENPAI (senior paling tinggi) akan berpindah ke Uzumaki Anggriawan ini. hohoho
Terlau banyak hal baik yang dilalui bersama, sehingga akan menjadi sulit mengatakan SELAMAT TINGGAL. dan semoga tulisan sederhana ini bisa mewakili banyak perasaan yang tak terucapkan.
Satu hal lagi
Kadang aku bertanya kepada mereka mengenai rencana kepulangan. Dwi berkata akan membuka restoran, temannya siap bekerja sama. Anjas berencana menikah, sudah terlalu rindu dengan pacarnya. Fotonya dipajang dimana-mana. Selain itu ingin melanjutkan memperbesar warung ibunya. Susi terlau pendiam dan tertutup dengan rencana setelah pulang.
Aku sedikit kecewa, karena tak ada satupun dari mereka yang berkata ingin melanjutkan kuliah. Menemukan apa yang menjadi "gairah" mereka lagi.
Fahamilah, bahwa hanya pendidikan yang mampu membawa kita keluar dari jerat setan yang bernama kemiskinan. Benar sekali, ada bnyak cara untuk belajar. Dan salah satunya adalah dunia perkuliahan. Jangan berharap kaya setelah lulus kuliah, tapi berharaplah agar bisa merubah hal yang paling penting yaitu POLA PIKIR. Itu mahal sekali harganya.
Satu hal yang pasti, di Jepang kita telah ditempa dengan sangat keras oleh keadaan. Yakinlah tak akan ada lagi rasa sakit yang mampu mengalahkan kita. Karena kita telah lalui yang terberat di sini. Dan anehnya kita bisa tertawa dan melebur bersama banyak "perih". Kalian pemenang yang sesungguhnya.
Apapun yang kalian lanjutkan setelah ini. sebagai seorang junior gue ingin memberikan sedikit petuah : Berjuanglah lebih keras dari biasanya dan jangan pernah menua bersama dengan hal yang tek berani kalian lakukan ketika muda.
SAYOUNARA...!!! Sampai ketemu lagi di Indonesia. Nikmatilah Merdeka.