| dari kiri : Anjas, Dwi, Susi |
Apa yang bisa dilakukan seorang junior tanpa senior?
Jawabnnya "tidak ada"
Entahlah
Sejak masa pelatihan, ingin kutinju wajah seorang senior yang mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang mengindikasikan seolah kita tak akan bisa melakukan apapun tanpa "mereka". Kalimat "menjijikan" yang waktu itu menurutku terlalu didewakan dan terlalu dipaksakan untuk kita amini.
Kemudian hari berganti dan gue mulai menyadari bahwa kalimat itu benar adanya. Bukan kalimat "kosong" yang didewakan tanpa benar-benar memiliki makna. Bukan "dogma" yang dipaksakan untuk ditelan walau kita tak begitu mengerti artinya. Ya, kalimat itu benar adanya.
18 bulan sudah gue di Jepang, mengais rejeki di negeri orang sebagai tukang Las. Sebuah pekerjaan yang menurut orang Jepang berada pada tingkatan tertinggi keahlian lapangan yang harus dimiliki. (ini kalimat Senpai, gue mah percaya aja). Sungguh, dengan beratnya pergantian musim, pekerjaan dan kehidupan kerja di Jepang, harus gue akui bahwa keberadaan seorang senior sangatlah penting.
Tanpa mereka, entahlah, mungkin kita hanyala orang kikuk yang terasing oleh zaman. Tanpa mereka, entah bagaimana caranya kita bertahan. Dan sebagai lelaki harus gue akui, keberadaan senior sungguh sangat penting. Mereka adalah jangkar dalam permainan American footbal, atau pemain tengah dalam sebuah tim bola. Mereka adalah segalanya.
Bahasan berat
Nangis di pojokan,,, hehehe
***
Anyway
Gue punya 3 ekor senior yang hari ini masih bertahan, tinggal mengitung hari menuju hari kepulangan ke Indonesia karena masa bakti (red : pertarungan) di Jepang hampir berakhir. Tulisan singkat ini adalah sebuah persembahan untuk mereka. Semoga persaudaraan ini akan abadi selamanya dan tak ada yang akan saling melupakan.
Kalo gue punya hutang tolong diingetin. Kalo Senpai ngerasa punya hutang, tolong jangan samapi ditagih. hohoho
Kalo gue punya hutang tolong diingetin. Kalo Senpai ngerasa punya hutang, tolong jangan samapi ditagih. hohoho
Anjas Saputra
Senior yang baru gue kenal sekitar 1 tahun lalu. Sebelumnya bekerja di cabang lain perusahaan di kota Ota. Berkulit putih, tinggi dan berat badan proporsional. Jenis lelaki yang bisa membuat perempuan teriak histeris (dianggap maling jemuran). Konon menurut "news bird", dia masih bergaris keturunan dengan prajurit China yang dibawa oleh Laksama Cheng ho waktu mendarat di Semarang. Entahlah.
Jenis lelaki loyal dan sayang keluarga. Sangat mudah tersentuh jika berbicara tentang keluarga. Tentang kakaknya yang tidak sabar menikah padahal dia ingin berada di acara itu. Tentang ibunya, perempuan terbaik yang pernah dia miliki. Matanya selalu berkaca-kaca jika membahas keluarga.
Jenis lelaki loyal dan sayang keluarga. Sangat mudah tersentuh jika berbicara tentang keluarga. Tentang kakaknya yang tidak sabar menikah padahal dia ingin berada di acara itu. Tentang ibunya, perempuan terbaik yang pernah dia miliki. Matanya selalu berkaca-kaca jika membahas keluarga.
Satu hal yang aku fahami, bahwa lelaki loyal cenderung pendendam menurut beberapa teori psikologi. Entahlah.
Aku pernah berkata kepadanya mengutip kalimat Yohanes Saputra yang wajahnya tak pernah ku kenal. Kubilang; hasil adalah bagaimana kita memperlakukan keadaan.
Kulanjutkan teoriku, kita boleh saja diprogram yang sama, jenis pekerjaan sama, waktu yg sama dan bahkan mendapat perlakuan yang sama. Tapi hasil yang akan kita peroleh setelah 3 tahun belum tentu sama. Tergantung bagaimana kita memberikan perlakuan terhadap keadaan yang kita hadapi.
Entahlah, dia takzim mendengar, dan tak kufahami artinya. Bisa saja dia berkata "bocah ini banyak sekali teorinya"
Super sekali...
hihihi
Dwi
Ini senior yang harus bertanggung jawab terhadap banyaknya tindakan nekat. Karena pertama kali gue mengenal istilah "tiket multi akiba" dari dia. Walaupun kemudian dia berkilah tak pernah mengajarkan hal buruk itu.
Hey... belajarkan kan juga bisa dari melihat...
Senpai pertama yang membawa gue jalan ke Tokyo dan mentraktir makan di Sukiya. Harga yang cukup mahal waktu itu untuk kantong orang Indonesia. Walau sekarang akhirnya gue sadari, SUKIYA adalah makanan kelas warteg di Indonesia. hehe
Arigato
Jenis lelaki yang mudah "melebur" dengan keadaan. Mimik muka yang dibentuk sedemikian rupa, ekspresi "antusias" yang tentahlah mungkin saja dibuat-buat. Anyway, orang ini pendengar yang baik. Kadang kita berdebat tentang bagaimana cara mencari pasangan hidup, tentang sosial politik, apa saja yang penting bisa diperdebatkan.
Terakhir kami berdebat soal haram atau tidaknya rokok. Entahlah, dia selalu bertahan dengan argumen "banyak ustadz yang merokok". Dan gue bertahan dengan argumen "rokok haram karena menyebabakan banyak penyakit".
Anyway, sampai sekarang masih ngerokok.
Anyway, sampai sekarang masih ngerokok.
Susi
Nama lengkap Susianto entah kenapa bisa bertransformansi menjadi Susi. Nama panggilan yang aneh untuk seorang lelaki dengan kulit yang lumayan eksotis. Akibat dari terlalu banyak diasapi oleh mesin las dan debu Grinda. hehe
Jenis lelaki yang tak banyak bicara. dan jenis lelaki seperti ini bisanya adalah adalah orang yang bijak. Entahlah bedanya terlalu tipis antara bijak dengan "tak tahu harus bicara apa". Karena orang bijak selalu tahu kapan harus bicara, bagiku senior yang satu ini cukup bijak.
Pacarnya memanggil dia TOYIP karena 3 kali puasa dan 3 kali lebaran ngak pulang-pulang. Tapi syukurlah "skype"an tetap berjalan. Jadi, rindu masihlah tersampaikan.
Senpai yang dengan gagah menemani petualangan ke Osaka dan Kyoto selama libur musim panas kemarin. Seharian di kereta, hampir bermalam depan stasiun karena ngak tahu harus bermalam dimana. Menjadi pahlawan di detik-detik terakhir karena temannya mau memberikan tumpangan untuk satu malam.
Berdebat soal jalur bis ke Kinkaku-ji yang akhirnya membuat kami berkenalan dengan seorang Ibu-ibu dari Korea. Niat hati biar bisa kenalan dengan anaknya, tapi karena tak cukup keberanian yang terkumpul. Jadilah sepanjang perjalanan bicara dengan emak-emak. hehe
***
Satu hal yang pasti, posisi DAISENPAI (senior paling tinggi) akan berpindah ke Uzumaki Anggriawan ini. hohoho
Terlau banyak hal baik yang dilalui bersama, sehingga akan menjadi sulit mengatakan SELAMAT TINGGAL. dan semoga tulisan sederhana ini bisa mewakili banyak perasaan yang tak terucapkan.
Satu hal lagi
Kadang aku bertanya kepada mereka mengenai rencana kepulangan. Dwi berkata akan membuka restoran, temannya siap bekerja sama. Anjas berencana menikah, sudah terlalu rindu dengan pacarnya. Fotonya dipajang dimana-mana. Selain itu ingin melanjutkan memperbesar warung ibunya. Susi terlau pendiam dan tertutup dengan rencana setelah pulang.
Aku sedikit kecewa, karena tak ada satupun dari mereka yang berkata ingin melanjutkan kuliah. Menemukan apa yang menjadi "gairah" mereka lagi.
Fahamilah, bahwa hanya pendidikan yang mampu membawa kita keluar dari jerat setan yang bernama kemiskinan. Benar sekali, ada bnyak cara untuk belajar. Dan salah satunya adalah dunia perkuliahan. Jangan berharap kaya setelah lulus kuliah, tapi berharaplah agar bisa merubah hal yang paling penting yaitu POLA PIKIR. Itu mahal sekali harganya.
Satu hal yang pasti, di Jepang kita telah ditempa dengan sangat keras oleh keadaan. Yakinlah tak akan ada lagi rasa sakit yang mampu mengalahkan kita. Karena kita telah lalui yang terberat di sini. Dan anehnya kita bisa tertawa dan melebur bersama banyak "perih". Kalian pemenang yang sesungguhnya.
Apapun yang kalian lanjutkan setelah ini. sebagai seorang junior gue ingin memberikan sedikit petuah : Berjuanglah lebih keras dari biasanya dan jangan pernah menua bersama dengan hal yang tek berani kalian lakukan ketika muda.
SAYOUNARA...!!! Sampai ketemu lagi di Indonesia. Nikmatilah Merdeka.
|end|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar