Selasa, 23 September 2014

Sukses dan Bahagia

Apa itu sukses?

Iya, apa ya?

Phone a friend boleh gak?

SKIP SKIP

Sukses, jika didefinisikan emang agak rumit sih. Persis serumit jalan menuju sukses itu sendiri. Gak semulus paha AKB48 yang kita bayangkan.

TAPI
Sebagian besar akan menarik garis lurus dengan "uang". Selalu begitu, uang. Di jaman delman bisa terbang ini, harta adalah tolok ukur seseorang dikatakan sukses atau tidak.

Ada benarnya sih. Tapi tak sepenuhnya benar.

Jika boleh meminjam kata om gue;

"kita tak pernah tahu, seseorang sukses atau tidak sampai Adzan dikumandangkan di telinganya"

Sorry, proses berfikir gue agak lamban dikit dari amoeba.

SKIP SKIP emang amoeba punya otak?

Alahhhh, pokoknya itulah, butuh beberapa tahun buat ngerti maksud dari kalimat di atas.

Nah, setelah melakukan sebuah persekongkolan gelap dan menyuap pejabat terkait (om gue) dengan sebatang rokok.

Hina sekali, harga dirinya hanya sebatang rokok.

Akhirnya terungkaplah rahasia di balik misteri kalimat itu.

Kira-kira begini
Seseorang belum bisa dinyatakan sukses jika dia belum meninggal, karena dia masih hidup dan terus mengupayakan sesuatu. Entah itu mimpinya atau apalah itu.
Dan ketika dia mati, baru kita tahu. Orang-orang akan mengingat namanya. Dia menjadi legend. Ceritanya akan terus diceritakan dari generasi ke generasi. *kayak iklan jajan aja.

Ada benarnya juga,
buat apa punya duit segunung, jika akhirnya kita mati dan tak meninggalkan kesan. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan anak yang cakep. ehhhhhhh,,,, meninggalkan NAMA.

Nah, kalo kamu mati, aku ikut. so sweet....

WAIT WAIT

elo gak mau dengar SUKSES versi gue...?

Dengerin PLIZZZZZZ, mau yak....

OK, karena elo maksa gue ceritain
Sukses menurut gue linier dengan HAPPY.
Ya ya,,, duit juga penting, meninggalkan nama yang harum dan terkenal juga penting. Namun, tak ada yang lebih penting dari bahagia.

Emang elo mau mati dengan duit banyak, eh ternyata hasil korupsi. Emang elu mau mati terkenal setelah menjadi pembunuh berantai.

Hampa, dan tentu saja tak bahagia.

Bahagia adalah point penting dari hidup ini. Tentu saja akan lebih keren jika di-mix dengan kaya dan nama yang harum cetar membahana.

Tujuan hidup ini adalah bahagia.
Ngapain pengen beli gadget keren kalo gak pengen pamer bahagia. hehehehe.
Ngapain pengen jadi juara kelas kalo ngak pengen narik perhatian gebetan bahagia. Dan ngak mungkin aku ngejar-ngejar kamu kalo ngak pengen nagih hutang bahagia.

Dulu banget pas SD, gue fikir gue akan mulai bahagia kalo udah masuk SMP dan boleh pake sepeda. Karena aku bisa boncengin kamu.
Eh pas SMP, gue fikir bisa lebih bahagia kalo SMA, karena bisa ngapel ke rumah kamu.
Saat SMA juga begitu, gue kira akan lebih bahagia lagi kalo udah bisa kuliah dan lulus, karena udah bisa ngelamar kamu.

Tapi ini terus berulang-ulang ngak ada habis-habisnya. Sampai akhirnya kamu dilamar orang. dan.... aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...

Gue pada akhirnya menemukan bahwa bahagia itu tak bersyarat. Tak boleh ada kata "jika". Bahagia itu saat ini juga, kapanpun dan dimanapun.

Asekkkkkkkkk. Puitis sekali abangku ini.

Akhir kata, gue pinjam kata-kata om gue;

Pada akhirnya kita akan mati, namun pilihlah caramu sendiri, Sebagai pecundang atau sebagai pemenang.

END

Senin, 22 September 2014

Tentang Jepang

Banyak hal yang mulai gue rasa berbeda dengan apa yang pernah gue baca tentang Jepang di artikel-artikel. YA sebelum gue berada di sini.

Biar agak gampang gue coba rangkum, 

1. Indonesia pernah di Jajah Jepang
menurut gue, ini point paling menyakitkan. karena tak banyak pemuda Jepang yang tahu kalau negara mereka pernah menjajah Indonesia dan meninggalkan luka yang cukup dalam. 

Mental bangsa terjajah. Susah sekali keluarnya. 

Usut punya usut pelajaran sejarah tentang "menjajah Indonesia" tak diajarkan di sekolahan.

kecuali pemuda yang benar-benar peduli dan mencari tahu. Menurut teman gue yang kebetulan belajar sejarah negaranya. Kalau pemuda Jepang tahu nenek moyangnya pernah menjajah Indonesia pasti mereka malu sekali.

Ya, tapi begitulah kenyataan. PAHIT

2. Perempuan Jepang dan anjing

Mencari perempuan jepang yang tidak manis, lebih sulit dari mencari jarum dalam Jerami.

OK, peribahasa baru... Catettttttt

Namun kenyataan lainnya mengikuti, udah senang banget liat cewek-cewek manis. eh tau taunya meluk-meluk anjing.

Hadeh,,, padahalkan lebih baik melihara kambing atau sapi, kalo gede bisa disembelih. ckckckck

Sejauh apa yang gue lihat, perempuan Jepang hampir selalu memiliki anjing.

Nah lo, gak mau melihara anak. eh malah melihara anjing.

Pengen teriak sambil bilang ITU SALAH. Tapi seperti kata teman tongkrongan gue di warung bi As yang namanya ALex "budaya selalu benar bagi yang memilikinya"

Jadi gue ngak bisa protes.

3. Rokok

harga rokok di jepang, bikin perokok pengen nangis darah. Mahalnya tingkat dewa, padahal rasanya biasa aja. 

kayak ngisap rokok kertas. Ini kata teman se-apato gue.

Hal ini udah sering gue baca, jadi ada hal lain yang ingin gue ceritain.

Mencari perempuan jepang yang tidak merokok, ini lebih sulit dari mencari perempuan Jepang yang tidak manis.

Asek,,,, pribahasa baru lagi.

Artinya: perempuan Jepang itu manis, tapi ya itulah... ngak enak bilangnya. Hampir pasti merokok.

catatan >>> ini bisa jadi trik kenalan, trik klasik. MINJAM KOREK API

4. Mobil

Dulu, gue baca artikel tentang orang Jepang ngak suka mobil. Emang benar banyak yang pake kereta buat hilir mudik. Tapi bukan berarti mereka ngak suka mobil><

Hampir setiap rumah pasti ada mobilnya. Itulah kenyataannya.

Usut punya usut, ternyata orang Jepang suka mobil. Ini penjelasan beberapa kenalan.

5. Pemuda Indonesia dan Mt. Fuji

Dulu banget sebelum ke Jepang. Liat foto teman narsis di mt. Fuji lengkap dengan status "di puncak tertinggi Jepang".

Setelah gue nyoba ngedaki, ternyata tak banyak yang sanggup mendaki puncak. Hanya beberapa saja, terus terang gue biasa naik gunung dan hampir menyerah.

ketemu banyak teman-teman yang ngak bisa naik sampe atas, eh pas pulang banyak juga yang bikin status seperti di atas. maklum 2000 dpl bisa dicapai dengan bis. Dan itu cukup tinggi untuk narsis dan bilang udah di puncak.

6. Miyabi/Maria Ozawa dan Yui Yoshioka

nama-nama di atas tak begitu terkenal di kalangan pemuda jepang. Sejauh gue bertanya ke kenalan-kenalan, tak banyak yang kenal.

YUI misalnya, walaupun tahu, Tapi ya itu... gak tahu lagunya.

Apa mungkin kita yang nge-fans berlebihan.

Kalo gue ngefans sma YUI, gak tahu deh kalo teman yang lain. hehehe

END

Mengapa penjahat kecil?

Setelah beberapa bulan hidup di Jepang, aku mulai mengenal sebuah sifat manusia lainnya.

"jika lembur temanmu tak ada dalam sebulan, kau akan merasa sedih, tapi jika lemburnya lebih banyak kamu lebih sedih lagi"


hayo yang ngerasa tunjuk tangan.


*lempar mesin las, eits gue menghindar.



****
Sebenarnya gue takut. Gue takut, karena hukum alam tak bisa dilawan. Sesuatu yang kecil pasti menjadi besar.

Nah gue takut, kalo hari ini gue adalah penjahat kecil. Takut banget kalo nanti menjadi penjahat besar. Atau malah menjadi penjahat kelas kakap.

Alahhhh,,,, ngomong apa ini???

Fokus fokus...

OK gue jawab.

Sebenarnya kata penjahat kecil adalah semacam jargon dari Sensei kami saat masih pelatihan di Indonesia.

Tentu ada alasan mengapa memanggil kami seperti itu.
Sensei memprediksi kami akan mulai melakukan kenakalan-kenakalan kecil saat mulai berada di Jepang.

Dan memang benar terbukti, kejahatan kecil seperti mengakali mesin penjual otomatis. Bahkan yang paling parah naik kereta tanpa bayarpun sering kali gue lakukan.

Sombong banget ya, beberapa kali maksudnya.

Kata senpai, kalo bayar full gak mungkin bisa jalan-jalan.

Ya ada benarnya,
misal, mau jalan dari tempat gue ke Tokyo kudu ngerogoh kantong agak dalam dikit. Apalagi kalo mau maen ke Kyoto. wuihhhhhhh....! bisa kering sekeringnya kantong ini.

Selain penjahat kecil, gue mendapat semacam panggilan baru dari anak-anak Indonesia di Jepang, BOLANG. Benar saja, beberapa tempat yang tak pernah ditemukan oleh senior bisa aku temukan saat hari ke dua berada di Jepang. Aku pergi lebih jauh mengelelingi Jepang melibihi apa yang telah dilakukan senior saat bulan pertama.

Jika boleh menyebut atau menamakan diri sendiri, aku menyebut diriku petualang. Itu saja.... Walau banyak sahabat yang memilih menyebutku traveler gila. Ya hanya traveler gila yang mendaki Fuji sendiri, padahal orang lain membuat kelompok agar aman sejak meninggalkan rumah.

Hanya orang gila yang meninggalkan rumah mengelilingi Tokyo pada minggu pertama mulai bekerja. Padahal jarak rumah ke Tokyo 4 jam kereta. Kata senior apa yang kulakukan tak pernah dilakukan junior lain sebelumnya.

Sebenarnya ingin ku tahan saja, tapi niat untuk melihat tempat baru sungguh tak dapat ditahan dan dibendung.

Jadi, ambil ransel dan bertualang.

Siapapun kamu, kenshuusei di seluruh Jepang, mari berhenti menjadi penjahat kecil, jalani hidup ini lurus selurusnya. Biar masuk surga. AMIN


Ibarat analogi memancing, semakin lama jika memancing gak berhenti-henti pasti bak penampungnya penuh. Semakin lama melakukan kejahatan, pasti ketahuan.


Akhir kata, hati-hati jangan sampai berakhir di kantor polisi. OK


END


Minggu, 14 September 2014

Tentang Belajar

Tulisan ini muncul bersamaan dengan situasi perpolitikan Indonesia yang semakin memanas. Ahok sedang perang di media dengan Haji Lulung. Termasuk tentang UU pilkada dimana kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD yang kayaknya akan disyahkan oleh DPR.

Gak ada hubungannya dengan judul ya...?
Sorry otak lagi pusing, biasalah habis pulang nyari jodoh gue yang tersesat di pelukan lelaki yang mungkin saja brengsek. Kali ini gue nyari sampai ke Shinagawa Ken. Tepatnya di daerah Yokosuka.

Hasilnya bang?

HAMPA, tangan kosong.

***

Katanya sih, belajar itu adalah sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan kata lain, ada orang yang gak bisa sama sekali, tetapi karena melakukan sebuah proses yang namanya belajar akhirnya dia menjadi bisa.

itu sama aja. hehehehe
Kayak aku, awalnya aku gak bisa mencintai kamu. Tapi karena aku belajar dengan keras, akhirnya aku bisa mencintaimu.
 *lempar asbak.. hehe

Bacara apa sih bang? saya bingung>

gak usah bingung, saya juga lagi ngigo gak tahu lagi ngomong apa.

Kalo ngomong tentang belajar, gue selalu ingat sama emak gue. Emak selalu "menyuruh" gue belajar dengan rajin. Katanya biar gue bisa memperbaiki keturunan. hehehehe

STOP
btw, kenapa kata "menyuruh" diberi tanda petik bang?

Gak enak aja gue bilang "dipaksa", karena biasanya pada situasi ini emak gue nungguin belajar sambil megang rotan.

***
Menurut emak, kalo gue rajin belajar, terus nanti bisa kerja di jepang. Pasti ada cewek yang mau sama gue. Sedih banget nasib ini Tuhan. Ambil saja nyawaku. emak gue sendiri gak yakin gue bisa dapat jodoh.

Sejak kecil otak "penjahat" gue kayaknya sudah tumbuh lebih cepat dari umur gue. Karena emak ngak ngerti belajar itu apa. Jadi agak gue akalin dikit. Maaf emak, sorry banget.

Bagi emak, orang belajar itu harus membaca buku. Nah... di situlah letak kesalahannya. Bukankah buku cerita, komik, novel juga adalah buku...? Ya begitulah yang terjadi. Ngak enak kalo dilanjutin. hehehehe

SKIP

***

Kalo boleh jujur sih, pelajar-pelajar sekarang sudah malas belajar. Padahal segalanya telah lengkap. Perpustakaan bukunya lengkap. kalo kurang, tinggal nyari di Om gugel.

Kayaknya anak-anak jaman sekarang harus dikembalikan ke jaman batu dulu. Saat listrik belum masuk desa. Maupun saat buku-buku pelajaran kakak kelas harus diwariskan ke adik kelas karena buku bantuan dari kabupaten datangnya 3 tahun sekali. Suram sekali rasanya masa itu. Tapi entah kenapa kita selalu belajar dengan penuh semangat. 

Lalu hal anehpun terus terjadi, keadaan ini ternyata berbanding terbalik dengan kualitas pendidikan, tenaga pendidik, lulusan sekolah maupun lulusan universitas yang kayaknya semakin menurun.
Sarjana sih banyak, tapi banyak juga yang pengangguran.
*ngelus dada...

Why

Why

Kalo kamu tahu jawabannya tolong kontak saya.

Please....!!!!

Akhir kata, kalo kamu mahasiswa apalagi jomblo dan ngak ganteng-ganteng amat. Rajinlah belajar dan berdoa, semoga jodohmu segera menemukanmu juga.
Amin...

Oh iya satu lagi, cobalah bantu pemerintah mengurangi penganguran dengan lulus lebih lama.

_END_

Rabu, 03 September 2014

Mengapa Harus Bermimpi

Manusia tanpa mimpi, bagaikan Peserta Magang Jepang tanpa bubuk ajaib, HAMBAR.

eitsssss, jangan nyinyir dulu.

Ini kenyataan, sejak hidup di Jepang gue jadi pandai masak, masakan apa aja bisa gue buat. 
Ehemmmmmmm, tolong digaris bawahi, bisa gue buat belum tentu bisa dimakan.

Tentu saja dengan bantuan bubuk ajaib yang hanya diproduksi di Indonesia. Perlu waktu sebulan untuk bisa mendatangkannya dari Indonesia. Ini adalah bubuk tak ternilai dalam hidup gue. Gak bisa gue bayangin hidup gue tanpanya.

Pernah sekali gue lupa beli, dan rasanya hambar sekali selama sebulan.

kok sebulan.

Ya begitulah, sebulan adalah waktu yang lama untuk sebuah penantian. Harap maklum, penjualnya datang sebulan sekali. Jadi yaaaaaaaaa, sekali lagi harap maklum.

OK fokus fokus.

Bicara tentang apa bang?

MASAKO

****

Jika berbicara tentang mimpi, gue gak kuat. Panas, ampun, ampun. *lambaikan tangan
Kepala gue pusing, udah gue jedotin ke tembok berkali-kali gak ilang-ilang.

Bicara tentang mimpi, sakitnya di sini *nunjuk ubun-ubun.

Ada banyak definisi tentang mimpi, ini lebih rumit dari rumus alogaritma atau aljabar.

Karena gue gak suka yang rumit, gue coba bikin se-simple mungkin biar elo juga ngerti. OK... Mimpi jangan didefinisikan terlalu rumit. Kata emak gue, mimpi adalah sesuatu yang jika kamu sebutin akan membuat kamu menangis. Pantas aja pas gue sebutin nama Kristen Stewart, gue suka menitikan air mata.

Asekkkkkkkk

Jika boleh jujur, dan jika elo pernah membaca tentang uzumaki, elo akan mengerti mengapa mimpi itu perlu dan penting.

OK, gue serius.

Manusia miskin dan berani hidup tanpa mimpi adalah manusia yang nekat hidup.

Kalo boleh cerita dikit. boleh ya,,,,, PLIZZZZZZZ

hidup gue dulunya flat sekali. Mimpi tertinggi gue adalah menjadi PNS, menikah dengan pacar gue, (ehem sorry, sekarang udah jadi mantan) yang juga punya mimpi yang sama. Saat itu indah sekali rasanya dunia.

Semua itu semakin lengkap karena lingkungan juga ambil bagian membentuk karakter itu. Hidup di daerah pedalaman, melalui masa kecil tanpa listrik, sering gak bisa makan ikan karena pasar jauhnya berkilo-kilo.Tapi, gue bahagia.

Hidup dalam lingkungan marginal yang mendewakan profesi PNS. Tentu saja mindset gue begitu2 aja seperti orang kebanyakan. 3 tahun kuliah dan gue masih setia dengan cara berfikir itu. Sampai akhirnya semua berubah setelah negara api menyerang.

Di akhir masa-masa menderita gue sebagai mahasiswa. Gue mulai menemukan oasis, pelepas dahaga, penunda lapar gue. hehehehe

Gue bertemu banyak teman dengan mimpi yang sama, semuanya ingin menaklukan dunia. Serammmmmmmm.

Sejak saat itu, mimpi MENGELILINGI DUNIA datang begitu saja, dan anehnya otak dan hati gue memberinya tempat yang rapi. Semacam pengisi lubang di hati. Lalu, bertahanlah dia di sana hingga saat ini.

Terus terang, gue penakut. Gue takut kalah jika terus bermimpi. Tapi berani ada karena rasa takut ada. Dan keberanian adalah rasa takut yang kita kalahkan.

Cobalah menjadi manusia tuli. Tuli terhadap ejekan, kalimat negatif yang mencoba menjatuhkan, dan rasakanlah merdeka yang sebenarnya.

Jika ada yang menyebutmu pembual karena berani bermimpi, biarlah. Mereka tak punya apa yang kau miliki. KEBERANIAN.

Keep moving forward dude...!!! biarkan waktu yang membuktikan kau adalah pemimpi sejati atau tak lebih dari seorang pembual busuk dengan angan-angan kosong.

_END_