Sebelum fokus ke judul, mari sedikit nakal membahas hal lain. Nah, kebetulan gue habis nonton film yang judulnya Brooklyn yang dibintangi si cantik nan aduhai Saoirse Ronan, kira-kira berkisah tentang Eilis, perempuan yang meninggalkan negaranya (Irlandia) ke Amerika (Brooklyn, New York).
Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran hidup, selain juga banyaknya adegan dewasa di film ini (anak kecil boleh tidur aja duluan). hehehe
Diantaranya, kakak Eilis berkata sebelum Eilis berangkat ke Amerika; Dengan senang hati akan kuhabiskan setiap sen uangku untukmu. Tapi aku tak bisa membelikanmu masa depan.
Nah, setiap orang tua wajib nonton nih. Karena masa depan setiap anak wajib dia perjuangkan sendiri, bukan didikte harus menjadi apa.
Kalimat penutup Ronan diakhir film juga bilang begini; Kau akan merasa rindu rumah seakan mau mati, tidak ada yang bisa kau lakukan selain menanggungnya. Kau akan melaluinya dan tak akan membunuhmu. Dan akhirnya kau akan menyadari, disinilah hidupmu.
Gue yakin, kalimat itu mewakili berasaan banyak perantau. Dan karena gue juga perantau, sungguh senang dengan perasaan yang terwakili dan ada yang merasakan hal yang sama. I Love You Ronan
"Entahlah, bagi gue, rumah adalah rumah. Tak selalu tempat dimana kita lahir, besar atau jatuh cinta. Rumah adalah tempat kita merasa nyaman. Tempat dimana rindu ditambatkan".
Asekkkk
*****
Okey back to topik biar pembaca yang budiman ngak merasa di-PHP. Check it out...!!!
Seorang teman pernah bertanya kepada gue. Manakah yang paling baik program PPIK (Pertukaran Pemuda Indonesia Korea) atau PPIC (China).
nah lo
Analoginya persis seperti bertanya, mana yang lebih enak masakan emakmu atau Ibu-ibu tetangga?
Jawabannya pasti Warteg Bias ibu elu sendirilah. hehehe
Emang rela bagi-bagi???
Emang rela bagi-bagi???
Karena gue alumni PPIC, maka tentu saja Program PPIC adalah program terbaik bagi gue. TITIK. Tapi kalo mau ditawari program ke Korea, mau juga dong, KEMENPORA plissss. hehehe
B*jingan, penjilat.
Okey, mari serius.
Analogi "masakan emak" tadi tentu saja bisa menjawab pertanyaan jika ada yang suruh pilih beasiswa atau magang.
Mari Objektif, sejauh ini Program Pemagangan terlalu banyak nilai positifnya bagi gue. Menjadi pemagang mengajarkan gue banyak hal tentang pentingnya persiapan agar tak mati karena suhu ekstrim Jepang. Belajar mengatur keuangan, pola makan, kerja dan percintaan. hehehe
Hal lain yang tak kalah penting adalah tabungan gue cukup buat nge-halalin kamu. iya kamu.. (ala dodit).
so, gue ngak ingin bahas panjang lebar tentang magang (walaupun panjang dan lebar itu enak), karena hal baiknya terlalu banyak.
So, dengan tegas gua akan bilang, sejauh ini program magang lebih baik dari program beasiswa.
So, dengan tegas gua akan bilang, sejauh ini program magang lebih baik dari program beasiswa.
Pendapat yang terlalu prematur (Fadli Zon).
bagaimana jika pertanyaannya diganti bang? Apakah abang ingin mendapat beasiswa belajar di luar negeri?
Malas jawab ah, tanya aja sama Fadli Zon. hehe
Semua orang butuh beasiswa tapi tak semua orang layak mendapatkannya. Beasiswa itu beda-beda tipis dengan profesi PNS. Sama-sama dibayar pake pajak penduduk (kita-kita juga), bedanya penerima beasiswa gak punya seragam.
Jadi, dibutuhkan orang-orang yang pas dikedua posisi ini. Misalnya punya rasa tanggung jawab dan jujur. Karena pertanggung jawabannya berat kepada Rakyat dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Berat cuy...
Beasiswa sebaiknya diberikan kepada orang yang membutuhkan, misalnya pintar tapi tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Atau orang-orang smart yang punya penelitian demi kemaslahatan umat. BERAT
Beasiswa kan emang kayak gitu bang. Terus masalahnya dimana sampai gak mau? Sombong ah
Eh, bukan ngak mau, hanya merasa belum pantas. Itu beda loh ya. CATET
Singkirkan sejenak tentang definisi beasiswa atau kepada siapa beasiswa itu diberikan. Mari kita lihat dari sudut pandang, bagaimana beasiswa itu diperlakukan oleh penerima.
Jujur, dibanyak program pertukaran pemuda, beasiswa atau apapun itu namanya. Banyak oknum pejabat yang menitipkan anak, kenalan mereka ke dalam program. Gue yakin ini udah jadi rahasia Negara umum dan anehnya terus dilakukan pembiaran. Entahlah apa yang mereka fikirkan.
Sejak SD hingga jaman kuli-ahan, gue cukup beruntung menjadi langganan beasiswa berupa tabungan pendidikan. Duitnya lumayan banyak.
Dan jujur harus gue akui, kadang duitnya gue nakal pake buat hal yang lain. misalnya benerin PS, beli gadget baru, nabung buat nikah.
B*jingan
Godaannya berat banget bro.
Padahalkan gak ada peraturannya yang berbunyi: jika duit beasiswanya berlebih, boleh ditabung buat nikah.
Alasan lainnya adalah karena sekarang gue merasa taraf hidup gue udah sedikit berada di atas garis kemiskinan. So, memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih butuh mungkin lebih baik. Super sekali saudara...
BUT
Beda ceritanya jika gue punya penelitian yang butuh bantuan dana penelitian dari pemerintah, dan setelah itu bisa berguna bagi hajat hidup orang banyak, gue ikutan deh...
Emang benar sih, kuliah di luar negeri itu prestisius. Tapi kuliah tetaplah kuliah, tidak jauh-jauh dari Skripsi. hehehe
Katanya perkuliahan di luar negeri anomali dengan Indonesia. Proses perkuliahan antara dosen dan mahasiswa dibuat sangat menyenangkan. Tak ada lagi sekat antara dua orang. Jadi, selamat tinggal dosen killer, ke laut aja. Tapi kok kalo nyebut-nyebut "skripsi", gue agak-agak ngeri-ngeri sedap gitu ya? Ah sudahlah.
And
bukan berarti gue bilang program beasiswa itu gak keren. Hanya saja setiap program berbeda dan tergantung karakter masing-masing orang (ini kalimat senior yang seleksi gue pas PPIC).
Katanya perkuliahan di luar negeri anomali dengan Indonesia. Proses perkuliahan antara dosen dan mahasiswa dibuat sangat menyenangkan. Tak ada lagi sekat antara dua orang. Jadi, selamat tinggal dosen killer, ke laut aja. Tapi kok kalo nyebut-nyebut "skripsi", gue agak-agak ngeri-ngeri sedap gitu ya? Ah sudahlah.
And
bukan berarti gue bilang program beasiswa itu gak keren. Hanya saja setiap program berbeda dan tergantung karakter masing-masing orang (ini kalimat senior yang seleksi gue pas PPIC).
So,
Jika elu-elu merasa cukup pantas dan layak menerima beasiswa, kejarlah. Tak peduli berapa kali jatuh, bangkitlah lagi dan kejar kembali.
go go go go
END