
"Kok sekarang rajin nulis bang?"
"Karena lagi nganggur"
"Kalau begitu saya doakan ngak dapat kerja selamanya"
"loh kok gitu?"
"biar rajin nulis"
"..." gue ambil karung, masukin dia, terus gue injak-injakSKIP
Sejak mulai kerja di Jepang, gue ketemu banyak orang dari berbagai macam suku di Indonesia dengan berbagai karakter sehingga membentuk semacam miniatur pergaulan nasional. Lumayan itung-itung ada yang nampung kalo misalnya jalan-jalan ke Jawa atau Sumatera.
Ada yang rajin kerja, malas masak, malas balas text pacar, ngak jelas, idealis, rajin ibadah dan banyak lagi yang lainnya.
Gue diam-diam memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang mereka (mungkinkah ini cinta? entahlah). Karena itu gue sangat yakin berbakat jadi pengamat. Lebih tepatnya KEPO sih.
Karena rasa ingin tahu yang tinggi ini, gue biasa manjat tower ikut gabung terus loncat ikut mendengar pembicaraan mereka. Lumayan nambah ilmu buat bekal masa depan. Mulia sekali kan gue?
Kira-kira begini hasil pengamatannya, gue bagi menjadi 3 kelompok berdasarkan perspektif berat enggaknya apa yang dibicarakan.
Kelompok A : cenderung berbicara hal yang remeh temeh, apa yang terjadi hari ini atau bergosip tentang teman yang lain
"Gue denger si Andi beli kamera baru"
"Si Budi itu DOREMI banget" ini apa sih?
"Dia ngak balas BBM gue"
"Doi jadian sama si Andi" Nah yang ini gue.
Pemagang yang masuk dalam kelompok ini sangat mudah teridentifikasi. Semisal ikut beli kamera yang lensanya segede paha beruang itu, padahal hobby juga ngak. Buat gaya doang. Beli gadget iphone terbaru, padahal gajinya pas-pasan. Biasanya pemagang yang baru mulai bekerja. Nah, bagian yang ini gue harus rela nunjuk hidung sendiri (hina sekali masa-masa itu).
Kelompok B : Cenderung membicarkan hal yang sedang "in", hal yang dibicarakan dikategorikan sedang
"Gue yakin Jokowi itu presiden boneka"
"Sebutkan prestasi Jokowi, selain hutang yang banyak itu" kok mirip tweetnya Ahmad Dhani ya?
"Sony Mirrorless 6300 baru rilis bro"
"Gue baru diputusin" sumpah...! ini bukan gue.
Kelompok ini berisi para kritikus dadakan, biasanya merasa paling tahu apa yang dia bicarakan. Kalau dinasehati, balik menasehati. Kalau minta dipinjami duit, balik minta pinjam. Kalau dijitak, balik menjitak (masa iya gak balas).
Kelompok C : Cenderung membicarkan masa depan, bagi mereka sudah tidak ada lagi bahasan remeh temeh. Mereka orang-orang yang punya long term vision.
"Tabungan udah berapa bro?"
"Hasil foto yang kemaren dapat juara lagi"
"Gue harus buka bisnis nih kalo pulang"
"bisnis apa bro"
"pengiriman TKI ke Jepang"
"sama aja" gue masukin karung, kirim ke Kiai Kanjeng biar digandakan.
"Gue harus nikah sama Chelsea Islan" sumpah...! ini juga bukan gue. Orang-orang tadi ngejar gue, diarak keliling kampung, terus dibakar.
Sialnya kelompok ini anggotanya tidak banyak. Ingin rasanya saya kirim mereka ke Kiai Kanjeng biar digandakan. Kelompok ini biasanya orang-orang yang serius, jarang jalan-jalan yang berdampak pada foto profil facebook tidak pernah ganti-ganti. Masa iya mau pasang foto lagi ngelas, nyabit rumput (pemagang pertanian), cenderung bertampang serius, jarang bercanda.
Mungkin bagi mereka hidup ini tidak selucu stand up-nya Raditya Dika. Mereka terlalu banyak jatuh, bangun, dan bahkan jatuh lagi dalam hidup mereka. Ada yang pernah usaha gulung tikar, ada yang kerja di perusahaan bonafit tapi dipecat. Ada yang udah ngerjain skripsi tapi ngak dikelarin karena malas lihat wajah dosen. Ada yang udah nembak si doi tapi ngak diterima, dlsb. eits apa ini, ampun.
Dan bekerja di Jepang bagi mereka adalah semacam redemption. Mengulang kembali, menata hidup agar mimpi mereka tak mati.
Gue sendiri bingung, gue ada di kelompok yang mana. Tapi gue sepakat tentang satu hal, orang yang bersiap hari ini adalah pemilik masa depan. Semakin cepat kita menanam, semakin cepat pula kita menuai.
END