Postingan ini serius, siapkan kopi dan cemilan, duduk yang manis. AND here we go....!!!
"Pernahkah mengejar sesuatu dan ternyata sulit untuk mendapatkannya? Lalu relakah jika kemudian kita melepaskannya dengan mudah?" Pertanyaan itu disampaikan oleh rumput-rumput yang bergoyang saat gue lagi merenung di depan rumah sambil makan batagor. *alah,,, ngak penting banget.
Usut punya usut, Rupanya kalimat di atas merupakan kalimat pegangan mutlak para anggota Mahasiswa Paling Lama (red; Mapala) yang menjadi alasan mengapa mereka enggan untuk enyah dari kampus yang mereka cintai.
Kalau lagi ngak malas mikir, kalimat itu ada benarnya juga. Bukankah masuk kuliah itu sulit. Mulai dari desak-desakkan pas daftar, capek mikir pas lagi tes, pun juga termasuk dag dig dug dalam urusan menunggu pengumuman. Apalagi jika ada kasus sogok menyogok agar bisa masuk kampus yang bagus.
Dengan banyaknya veriabel itu, saya heran jika ada yang ingin cepat-cepat enyah dari bangku perkuliahan. *eitssss, jangan lampar bangku dulu, lempar duit 10 ribuan boleh...
Coba deh berfikir realistis, hanya untuk urusan kuliahan aja orang-orang berjuang mati-matian buat belajar dengan serius biar segera WISUDA. Padahal perjuangan biar bisa kuliah itu susahnya minta ampun. *ngerti ngak? sabar, ini bahasa tingkat beginner
Setelah merenung dan berfikir hingga semangkuk batagor habis, gue memutuskan PRO kepada para MAPALA. Tapi, hanya kepada Mapala yang kritis dan berbicara sesuai dengan kapasitas, kapabilitas, imutas, isi tas dan tas tas yang lain. OK
---
Awalnya gue fikir segala sesuatu akan menjadi mudah jika kita wisuda. Namun ternyata urusan mencari pekerjaan jauh lebih sulit dari yang gue bayangkan. Loh kok bisa? Kenyataan bahwa dunia kerja menuntut orang-orang dengan skill yang pas dibidangnya. Dan kenyataan yang menyakitkan adalah tak banyak hal yang bisa dipelajari dari bangku perkuliahan.
Kalian boleh cincang-cincang gue karena pernyataan gue itu. Tapi, coba tengok fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Banyaknya pengangguran di usia-usia produktif adalah salah satu contohnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah, sebagian besar dari mereka adalah lulusan-lulusan perguruan tinggi.
Kalian boleh ngak setuju, karena mungkin kalian belum pernah merasakan sulitnya menjadi pengangguran.
Hampir tak ada hikmah dari menganggur. Semangat yang tergerus oleh waktu, saingan yang semakin beringas mengambil setiap kesempatan pekerjaan dengan cara-cara yang licik. Pun juga kenyataan bahwa ada ratusan ribu pengangguran terdidik yang gugup menghadapi kenyataan bangsa ini. Kemudian jika menilik kepada kelakuan pemimpin di bangsa ini, suram sekali rasanya masa depan itu nak. #nicewisdom... jangan serius gitu lah bro.. hahahaha
Di dunia kerja, kenyataan menjadi semakin aneh. Sarjana Matematika menjadi fotografer, mahasiswa biologi menjadi pegawai bank. Bahkan karena desakan ekonomi, sarjana hukum harus rela menjadi sopir taksi.
Lalu apa gunanya Kuliah? Silahkan kalian jawab sendiri. Tentu kalian punya jawaban sendiri.
-----
OK, back to the topic lagi tentang kegalauan/risalah para sarjana muda.
Simak dialog singkat di bawah ini,
"hebat banget bro, bisa lulus sebagai pegawai bank" ini gue yang nanya ke teman
"ngak juga bro"
"kok elu bisa lulus, bukannys sulit banget ya"
"gue ada orang dalem"
"abdi dalem???" sok pura-pura bego, padahal emang bego
"abdi dalem???" sok pura-pura bego, padahal emang bego
"elu KKN ya, wah ambil rizki orang itu namanya"
"kalo gue ngak KKN, yang lain yang KKN, gimana donk?"
"..." Ngak tahu harus jawab apa, *tampar gue plisssss, seburuk itukah kenyataan di bangsa ini.
Pusing dengan cerita di atas? sama, gue juga pusing
"sistem yang ada sekarang ibarat sebuah tsunami" ini tambahan pernyataan teman itu. Gue bingung, kalimat ini bikin pusing. Tingkatan bahasanya udah intermediete
Setelah gue analisa (dengan kecepatan 7,2 Mbps), ternyata pernyataan si teman ada benarnya. Jika aksi sogok menyogok itu adalah ibarat sebuah tsunami, tentu tak mungkin bisa dibendung dengan tembok setinggi 4 m. Cara satu-satunya selamat adalah dengan mengikuti arus tsunami itu.Ya, jadi penyogok juga.
"kalau gue ngak nyogok, saingan yang lain juga nyogok" kalimat ini bikin kuping gue tambah panas.
Ingin kutampar muka si Sarjana Matematika yang lulus Cumlaude itu, namun ternyata memilih menjadi pegawai bank.
Tapi gak bisa, karena waktu jaman kuliah gue sering nginap di kontrakannya. Terus dia sering minjamin gue duit. gimana donk???? dilema gue jadinya
Emang benar kata guru gue jaman SMA, "trigonometri, logaritma dkk ngak akan berguna di kehidupan nyata, jadi ngak usah dipelajari". Ini didikan guru ngak bijak, cukup hanya aku yang menjadi korbannya. Kalian jangan ikut-ikut. OK
LUPAKAN SEJENAK, fokus lagi ke topik pembicaraan.
Separah itukah bangsa ini?
Terus terang, gue lelaki optimis. Lebih baik mati, daripada menyerah sebelum berperang. Lalu relakah kita mati dalam menghadapi arus tsunami yang begitu besar, padahal tuntutan untuk bertahan hidup jauh lebih besar. Jika kita terus berjuang, tentu "suci dalam debu" adalah sebuah kutipan yang cocok untuk menggambarkannya.
Suram sekali rasanya masa depan pemuda di negeri ini. Bukan begitu bung...???
Dengarkan ini baik-baik, cermati dan lakukan, ini sangat penting jadi camkan baik-baik wahai mahasiswa; cobalah bantu pemerintah untuk menekan pengangguran dengan lulus lebih lama.
Mulia sekali bukan?
[wassalam]
"sistem yang ada sekarang ibarat sebuah tsunami" ini tambahan pernyataan teman itu. Gue bingung, kalimat ini bikin pusing. Tingkatan bahasanya udah intermediete
Setelah gue analisa (dengan kecepatan 7,2 Mbps), ternyata pernyataan si teman ada benarnya. Jika aksi sogok menyogok itu adalah ibarat sebuah tsunami, tentu tak mungkin bisa dibendung dengan tembok setinggi 4 m. Cara satu-satunya selamat adalah dengan mengikuti arus tsunami itu.Ya, jadi penyogok juga.
"kalau gue ngak nyogok, saingan yang lain juga nyogok" kalimat ini bikin kuping gue tambah panas.
Ingin kutampar muka si Sarjana Matematika yang lulus Cumlaude itu, namun ternyata memilih menjadi pegawai bank.
Tapi gak bisa, karena waktu jaman kuliah gue sering nginap di kontrakannya. Terus dia sering minjamin gue duit. gimana donk???? dilema gue jadinya
Emang benar kata guru gue jaman SMA, "trigonometri, logaritma dkk ngak akan berguna di kehidupan nyata, jadi ngak usah dipelajari". Ini didikan guru ngak bijak, cukup hanya aku yang menjadi korbannya. Kalian jangan ikut-ikut. OK
LUPAKAN SEJENAK, fokus lagi ke topik pembicaraan.
Separah itukah bangsa ini?
Terus terang, gue lelaki optimis. Lebih baik mati, daripada menyerah sebelum berperang. Lalu relakah kita mati dalam menghadapi arus tsunami yang begitu besar, padahal tuntutan untuk bertahan hidup jauh lebih besar. Jika kita terus berjuang, tentu "suci dalam debu" adalah sebuah kutipan yang cocok untuk menggambarkannya.
Suram sekali rasanya masa depan pemuda di negeri ini. Bukan begitu bung...???
Lalu apa yang harus kalian lakukan sebagai mahasiswa?
Dengarkan ini baik-baik, cermati dan lakukan, ini sangat penting jadi camkan baik-baik wahai mahasiswa; cobalah bantu pemerintah untuk menekan pengangguran dengan lulus lebih lama.
Mulia sekali bukan?
[wassalam]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar