Kamis, 14 November 2013

Hubungan antara Jomblo dan Politik Pencitraan

Sekilas emang ngak ada korelasi sama sekali antara seorang jomblo dan Politik Pencitraan. Namun kalo gue lagi ngak malas mikir dan menyempatkan waktu sejenak untuk merenungkan nasib gue yang "nelangsa" ini. Akhirnya gue menemukan hubungannya walaupun sedikit maksa.

Mengapa kalian harus membaca tulisan ini?
Karena sebelum tulisan ini diangkat, gue terlebih dahulu melakukan eksperimen dan penelitian mendalam terhadap jomblo-jomblo yang nelangsa. Dan jika kalian jomblo, tentu kalian harus mencari orang-orang yang senasip dan sepenanggungan. Biar gak kesepian dan pengen gantung diri di pohon cabe.

OK, mari kita mulai...!!!

---

Dunia perpolitikan Indonesia sedang digemparkan dengan banyak tindak korupsi dan pencucian uang. Dan pemimpin-pemimpin kita dicurigai terlalu banyak melakukan pencitraan di media. Sedangkan hasil nyata dari kepemimpinan mereka NOL besar.

Mr. Presiden misalnya, menurut gue beliau sudah melakukan banyak tindakan memperbaiki bangsa ini. Walaupun susah untuk dibedakan, negara ini menjadi lebih baik atau malah tergadaikan ke pihak asing. Namun dibalik segala ke-calm-an beliau, rupanya media telah balik menyerang beliau di akhir kepemimpinannya. Berbeda dengan ketika beliau mulai memimpin di tahun 2004.

Berat banget bahasa gue, udah mirip pengamat politik belum...?

Ngomong-ngomong tentang pengamat politik, tata kota dll, mereka adalah orang-orang yang munafik.

Ok, elu boleh cincang gue, tapi gue ngak akan narik pernyataan gue di atas. (bergaya ala Ahok)

Mereka berlomba-lomba mengkritisi pemerintah. Namun apa sebenarnya yang udah mereka lakukan selain mengkritik? Jawabanya ngak ada

Ada pengamat tata kota yang ternyata datang ke tempat interview di sebuah stasiun TV dengan mobil pribadi. Padahal jaraknya dekat. Padahal dalam solusi kemacetannya mereka minta agar masyarakat beralih ke angkutan umum. Dan gue heran, bagaimana mungkin "pengamat" menjadi sebuah pekerjaan.

SKIP Please, ceritanya udah melenceng jauh.

Upssss,,, sorry bang, gue lagi kesal aja dengan ulah para pemimpin bangsa ini.

OK, back to the point

Mengapa gue berani mengatakan bahwa para jomblo nelangsa di luaran sana juga melakukan banyak politik pencitraan. Karena gue pernah jadi jomblo, jadi gue khatam banget kelakuan para jomblo.

"tante besok mau ke mall ya"

"iya, kamu besok ikut tante"

"ok, siap tante"

"jam 12 bisa ya?"

"bisa banget, apa sih yang nggak buat tante"

"kamu gak jum'at-an, besok kan hari jumat"

"..." gigit-gigit jari karena ketahuan ngak pernah jumatan.

Ada yang bilang, "kalo elu pengen pacaran sama seorang, pacaranlah dulu dengan orang tuanya". Ini ungkapan orang-orang yang ngak berperasaan. Kalo gue pacaran sama ibunya, kemungkinan besar si cewek malah ntar jadi anak tiri gue, bukannya jadi cewek gue. atau elu tega menduakan cinta si cewek dengan cinta ibunya. *PLAKKKKK,
*keren kan proses berfikir gue.... hahahaha

-----

Pencitraan yang gue maksud adalah, melakukan segala tindakan yang membuat si doi menjadi terpesona dengan elu. Walaupun tindakan-tindakan itu sering menentang hukum "kekekalan Tuhan".

Misalnya merasa bisa seperti M. Jordan, ketika mendekati seorang cewek yang hobi bermain basket. Padahal jelas-jelas ngak pernah lihat bola basket.

Tiba-tiba menjadi puitis, ketika tahu si doi adalah mahasiswa jurusan sastra. Tiba-tiba sok bisa bahasa inggris ketika PDKT sama cewek Jur. english. Padahal bahasa daerah aja masih belepotan. Merasa lebih hebat dari Einstein ketika dekat sama cewek Fisika.

Parahnya lagi, ada yang pura-pura menjadi ganteng, padahal jelas-jelas kenyataannya ngak mungkin berubah.

Masih banyak lagi pencitraan-pencitraan yang dilakukan oleh para Jomblo-wan di luaran sana agar terlihat OK di  mata si doi.

Kasian sekali hidup kalian nak...!!!
 
-----
 
So, masih dengan pertanyaan yang sama bang. Bagaimana cara agar segera mengakhiri predikat jomblo yang udah lama tersematkan ini?

Akhirnya gue harus bilang; siapun kalian, jomblo dan sedang melakukan pencitraan. Lebih baik hentikan saja, karena tak ada gunanya. Hubungan yang dibangun di atas dasar keberpura-puraan pasti lapuk di makan waktu. Jadi diri sendiri aja, karena itu jauh lebih baik. Walau kenyataannya kita ngak terlahir mirip Cristian Sugiono atau secantik Luna Maya. Namun dengan menjadi diri sendiri, kita menjadi lebih kaya dari siapapun.

[Wassalam]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar