Kamis, 28 November 2013

Emakku Pahlawanku

Untuk seorang perempuan yang berusia senja, Emak kudeskripsikan sebagai seorang perempuan polos dengan cara berfikir yang sederhana. Kadang sebagai anak tertuanya gue sedikit kesal dengan perlakuan polos beliau.

Seperti selalu menanyakan "apakah pintu belakang sudah ditutup", "apakah lampu sudah dimatikan".

Hidup di jaman jahiliah membuat emak super protektif. Sehingga kalimat-kalimat di atas terjadi setiap hari. Katanya takut kalo ada maling. Saya juga takut kok emak...!!! Tapi ngak gitu juga tiap hari.

Itulah nasib bujang lapuk yang tinggal dengan ibunya. Ditambah dengan kenyataan emak menganggap anaknya ini masih kecil dan belum dewasa.

TAPI, di balik sikap "mengesalkan" beliau, aku selalu merindukan kepolosannya.

Tengoklah ketika kukabarkan sebuah berita bahagia.

"emak, aku diberikan kesempatan berkunjung ke China"

"cina?" emak pasang ekspresi aneh

"Iya mak, mewakili NTB"

"China itu desa di mana? di lombok?"

"Itu negara, dekat dengan Arab Saudi"

"Syukurlah, kalau begitu bisa sekalian mampir kasi beras ke bibimu di Madinah"

"..."

Aduh rupanya si emak ngak ngerti kalau China itu adalah sebuah negara. Sengaja kukatakan dekat Arab Saudi, biar beliau mengerti jika tempatnya jauh.

Namun yang selalu membuatku takzim adalah beliau selalu menitipkan beras atau hasil kebun lainnya jika aku berkunjung ke rumah bibi atau keluarga jauh.

---

Kejadian serupa juga terjadi, ketita aku mengabarkan sebuah berita gembira lainnya.

"Emak, saya diterima kerja di Jepang"

"Kapan mulai kerja?"

"Insyaallah awal tahun depan"

"Jepang itu di mana? kalau kirim beras lewat bis RIZKIKA bisa ngak"

"..."

Aduh emak, sayangnya ngak ada maskapai penerbangan yang bernama RIZKIKA. Kalaupun ada, buat apa mengirim beras sejauh itu melewati banyak negara.

Kadang kesal juga dengan si emak, ekspresinya datar. Aku kadang berfikir kasar, jangan-jangan beliau tidak bahagia kalau beritahukan kabar seperti di atas.

Namun di balik segala ekspresi datar dan kepolosan beliau. Beliau adalah emak pahlawan nomor satu di hatiku.

Mending jadiin orang tua sendiri sebagai pahlawan dan mengaguminya. daripada kagum sama Spiderman dan Superman, pahlawan-pahlawan ngak jelas itu.

Bukan begitu bung?

SETUJU...!!! (ekspresi baru menang undian 1 M)

Gen PENDIAM emak rupanya telah ter-copy 100% kepadaku. Aku tak pernah memberitahunya tentang apapun yang sedang aku jalani. Termasuk urusan percintaan.

Namun entah mengapa beliau selau tahu apa apa yang sedang terjadi dengan anaknya. Termasuk ketika anaknya broken heart karena cinta.

Usut punya usut, ternyata emak menyebarkan banyak teliksandi (red; spy) untuk menyadap informasi tentang anaknya.

Untuk korelasi antara urusan percintaan dan emak gue akan diceritakan pada tulisan berikutnya... hahaha

So, be patient,,, OK...!!!

---

Satu hal yang paling kusukai dari sifat emak adalah sikap "demokratis" yang beliau miliki. Tentu emak ngak pernah jadi aktivis adapalagi ikut berjuang di masa-masa kelam Indonesia tempo dulu.

"kalian boleh jadi apa saja, kalian saya sekolahkan agar memiliki cara berfikir yang berbeda dengan kami (emak dan bapak) yang tidak menamatkan bangku SMP"

*tentu saja beliau mengatakannya dengan bahasa daerah, jadi saya artikan biar kalian faham. wkwkwkwk

Kalimat itu tidak hanya sebuah kalimat retorik, karena beliau membuktikan dengan sikap. Misalnya tidak pernah memaksa aku harus bekerja dimanapun yang beliau impikan. Atau tak pernah memaksa aku harus kuliah dan menyelesaikannya dengan cepat.

Pun juga ketika kuceritakan mimpiku untuk mengelilingi dunia. Beliau mendengarkan dengan takzim dan tak menyela sedikitpun.

Termasuk ketika banyak orang mencela dan mengatakan itu tak mungkin. Beliau menasehatiku, kembali dengan kalimat yang bisa dihitung dengan jari.

"jika kau yakin, buktikan kalau mereka salah"

Akhirnya aku ingin berkata; tak bisa kubayangkan akan jadi apa aku jika tak ada ibu hebat seperti Emak.

Emas sugunung pun tak mungkin cukup untuk menggantikan perjuanganmu

TERIMA KASIH...

[END]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar