Selasa, 19 April 2016

Kekasihku


Kekasihku
Ada anak kecil mati di pelukan ibunya
Inginku hanyalah mati di pelukanmu sayangku

Ada orang bermimpi melihat Fuji
Inginku hanyalah melihat senyummu cintaku

Ada lelaki berkelana untuk mendengarkan suara jiwanya
Inginku hanyalah mendengar tawa renyahmu manisku

Kekasihku
Pernah ada suatu masa
Rindu menjelma kejam seperti pisau tajam mengiris sembilu
Meninggalkan perih, luka menganga

Pernah ada suatu masa
Menunggu menjelma risau
Seperti badai menerbangkan asa membuatnya tiada
Meninggalkan resah dan gunda sesudahnya

Pernah ada suatu masa
Jarak menjelma bosan
Seperti kabut selimuti dinding penantian
Menutup segala rasa, membuatnya tiada

Pernah ada suatu masa
Cinta menjelma benci
Seperti angin musim dingin menjatuhkan daun terakhir musim gugur
Kering, sesak, gersang tak bernyawa

Namun
kekasihku
Rindu, jarak dan menunggu adalah instrumen sebuah tarian
walau tak ada yang tahu kita menari
Itu tetaplah tarian indah
Tarian cinta

Kekasihku
pernah ada suatu masa

.....


Jepang, 19 April 2016

Jumat, 04 Maret 2016

Beasiswa ATAU Magang

Sebelum fokus ke judul, mari sedikit nakal membahas hal lain. Nah, kebetulan gue habis nonton film yang judulnya Brooklyn yang dibintangi si cantik nan aduhai Saoirse Ronan, kira-kira berkisah tentang Eilis, perempuan yang meninggalkan negaranya (Irlandia) ke Amerika (Brooklyn, New York).

Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran hidup, selain juga banyaknya adegan dewasa di film ini (anak kecil boleh tidur aja duluan). hehehe

Diantaranya, kakak Eilis berkata sebelum Eilis berangkat ke Amerika; Dengan senang hati akan kuhabiskan setiap sen uangku untukmu. Tapi aku tak bisa membelikanmu masa depan. 

Nah, setiap orang tua wajib nonton nih. Karena masa depan setiap anak wajib dia perjuangkan sendiri, bukan didikte harus menjadi apa.

Kalimat penutup Ronan diakhir film juga bilang begini; Kau akan merasa rindu rumah seakan mau mati, tidak ada yang bisa kau lakukan selain menanggungnya. Kau akan melaluinya dan tak akan membunuhmu. Dan akhirnya kau akan menyadari, disinilah hidupmu.

Gue yakin, kalimat itu mewakili berasaan banyak perantau. Dan karena gue juga perantau, sungguh senang dengan perasaan yang terwakili dan ada yang merasakan hal yang sama. I Love You Ronan

"Entahlah, bagi gue, rumah adalah rumah. Tak selalu tempat dimana kita lahir, besar atau jatuh cinta. Rumah adalah tempat kita merasa nyaman. Tempat dimana rindu ditambatkan".

Asekkkk

*****

Okey back to topik biar pembaca yang budiman ngak merasa di-PHP. Check it out...!!!

Seorang teman pernah bertanya kepada gue. Manakah yang paling baik program PPIK (Pertukaran Pemuda Indonesia Korea) atau PPIC (China).

nah lo

Analoginya persis seperti bertanya, mana yang lebih enak masakan emakmu atau Ibu-ibu tetangga?

Jawabannya pasti Warteg Bias ibu elu sendirilah. hehehe

Emang rela bagi-bagi???

Karena gue alumni PPIC, maka tentu saja Program PPIC adalah program terbaik bagi gue. TITIK. Tapi kalo mau ditawari program ke Korea, mau juga dong, KEMENPORA plissss. hehehe
B*jingan, penjilat.

Okey, mari serius.

Analogi "masakan emak" tadi tentu saja bisa menjawab pertanyaan jika ada yang suruh pilih beasiswa atau magang.

Mari Objektif, sejauh ini Program Pemagangan terlalu banyak nilai positifnya bagi gue. Menjadi pemagang mengajarkan gue banyak hal tentang pentingnya persiapan agar tak mati karena suhu ekstrim Jepang. Belajar mengatur keuangan, pola makan, kerja dan percintaan. hehehe

Hal lain yang tak kalah penting adalah tabungan gue cukup buat nge-halalin kamu. iya kamu.. (ala dodit).

so, gue ngak ingin bahas panjang lebar tentang magang (walaupun panjang dan lebar itu enak), karena hal baiknya terlalu banyak.

So, dengan tegas gua akan bilang, sejauh ini program magang lebih baik dari program beasiswa.

Pendapat yang terlalu prematur (Fadli Zon).

bagaimana jika pertanyaannya diganti bang? Apakah abang ingin mendapat beasiswa belajar di luar negeri?

Malas jawab ah, tanya aja sama Fadli Zon. hehe

Semua orang butuh beasiswa tapi tak semua orang layak mendapatkannya. Beasiswa itu beda-beda tipis dengan profesi PNS. Sama-sama dibayar pake pajak penduduk (kita-kita juga), bedanya penerima beasiswa gak punya seragam.

Jadi, dibutuhkan orang-orang yang pas dikedua posisi ini. Misalnya punya rasa tanggung jawab dan jujur. Karena pertanggung jawabannya berat kepada Rakyat dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Berat cuy...

Beasiswa sebaiknya diberikan kepada orang yang membutuhkan, misalnya pintar tapi tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Atau orang-orang smart yang punya penelitian demi kemaslahatan umat. BERAT

Beasiswa kan emang kayak gitu bang. Terus masalahnya dimana sampai gak mau? Sombong ah

Eh, bukan ngak mau, hanya merasa belum pantas. Itu beda loh ya. CATET

Singkirkan sejenak tentang definisi beasiswa atau kepada siapa beasiswa itu diberikan. Mari kita lihat dari sudut pandang, bagaimana beasiswa itu diperlakukan oleh penerima.

Jujur, dibanyak program pertukaran pemuda, beasiswa atau apapun itu namanya. Banyak oknum pejabat yang menitipkan anak, kenalan mereka ke dalam program. Gue yakin ini udah jadi rahasia Negara umum dan anehnya terus dilakukan pembiaran. Entahlah apa yang mereka fikirkan.

Sejak SD hingga jaman kuli-ahan, gue cukup beruntung menjadi langganan beasiswa berupa tabungan pendidikan. Duitnya lumayan banyak.

Dan jujur harus gue akui, kadang duitnya gue nakal pake buat hal yang lain. misalnya benerin PS, beli gadget baru, nabung buat nikah.
B*jingan
Godaannya berat banget bro.

Padahalkan gak ada peraturannya yang berbunyi: jika duit beasiswanya berlebih, boleh ditabung buat nikah.

Alasan lainnya adalah karena sekarang gue merasa taraf hidup gue udah sedikit berada di atas garis kemiskinan. So, memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih butuh mungkin lebih baik. Super sekali saudara...

BUT
Beda ceritanya jika gue punya penelitian yang butuh bantuan dana penelitian dari pemerintah, dan setelah itu bisa berguna bagi hajat hidup orang banyak, gue ikutan deh...

Emang benar sih, kuliah di luar negeri itu prestisius. Tapi kuliah tetaplah kuliah, tidak jauh-jauh dari Skripsi. hehehe

Katanya perkuliahan di luar negeri anomali dengan Indonesia. Proses perkuliahan antara dosen dan mahasiswa dibuat sangat menyenangkan. Tak ada lagi sekat antara dua orang. Jadi, selamat tinggal dosen killer, ke laut aja. Tapi kok kalo nyebut-nyebut "skripsi", gue agak-agak ngeri-ngeri sedap gitu ya? Ah sudahlah.

And
bukan berarti gue bilang program beasiswa itu gak keren. Hanya saja setiap program berbeda dan tergantung karakter masing-masing orang (ini kalimat senior yang seleksi gue pas PPIC).

So,
Jika elu-elu merasa cukup pantas dan layak menerima beasiswa, kejarlah. Tak peduli berapa kali jatuh, bangkitlah lagi dan kejar kembali.

go go go go

END


Senin, 15 Februari 2016

Alasan Indonesia Tak Akan Pernah Bisa Seperti Jepang Jika Tak Segera Berubah (Part 1)

Ingat teori tengil gue yang kira-kira begini; Lama pulang kerja berbanding lurus dengan Jumlah angka dalam selip gaji.
Nah, sekarang gue tambah satu teori baru lagi; lama pulang kerja berbanding lurus dengan jumlah postingan di Blog ini.

Nah artinya kalo gue bisa update kayak gini, duit tabungan buat nge-HALAL-in kamu jadi berkurang. ckckckck

Yesss. Catet...!

mari kita mulai, arahkan kursor ke lagu MAJU MUNDUR CANTIK miliknya Syahrini. Dendangkan....!!!

1
No Body Left Behind

Masih ingat dong sama berita yang sempat menjadi tagline berbagai berita online dalam negeri? Apaaaaa...! ngak ingat???
Dasar pemuda-pemuda apatis.

Hey, yang mana sih bang? Kasus papa minta pulsa? Atau curhatan Mulan Jameela yang diwawancara sama Om Deddy.

Bukan,,,, bukan itu, tapi rekaman percakapan artis Indra Bekti. hehehe
Alahhhh, ngomong apa sih ini, mari serius.

Berita yang gue maksud adalah tentang kereta JR Hokaido yang tidak jadi menutup salah satu stasiunnya karena masih ada seorang anak SMA yang sangat bergantung pada kereta itu.

SATU ORANG bro,,, dan pemerintah urung menutup stasiunnya.

Bayangan tentang tingkah angkot-angkot yang salip menyalip dan menaik-turunkan penumpang sesuka hati di Indonesia tiba-tiba menyeruak dalam fikiran. hehehe, no offense. Ini salah satu dari gugusan masalah pelayanan publik yang harus segera dibenahi di Indonesia.

Ok,,, Kembali ke Jepang lagi

Inilah artinya good governance yang masuk dengan benar dalam tingkat akar rumput. Setiap warga itu sangat penting. Tak ada anak yang boleh ketinggalan di belakang. Apalagi dalam urusan pendidikan.

Maka bukan hal yang aneh negara Jepang bangkit sejauh ini setelah hancur lebur pada tahun 45 dan kalah memalukan dalam perang dunia ke 2.

2

Pajak

Hidup di Jepang membuat gue sadar betapa memalukan kelakuan gue ketika masih hidup di Indonesia.

Di Jepang, kita harus membayar berbagai macam pajak dan asuransi dalam jumlah yang tidak sedikit. (berkurang deh tabungan buat mindahin anak orang ke rumah). Namun entah kenapa hati gue senang, ceria, tidak lagi gundah gulana... hehehe

Why?

Karena besarnya pembayaran pajak yang kita keluarkan sebanding dengan pelayanan yang kita dapatkan. Niat hati untuk merusak fasilitas umum jadi hilang karena kita merasa menyumbang dalam pembangunan fasilitas tersebut.

Nah, terkait hal ini gue agak gregetan (arahkan palylist ke lagunya Sherina)

Geregetan oh aku geregetan (sing)

emak gue nelfon, katanya bupati yang terpilih sekarang baik banget. Karena menggratiskan pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) kepada warganya.

Nah loh, mau jadi apa ini bangsa, setelah BBM dan listrik disubsidi, kini PAJAK juga yang seharusnya menjadi tiang penyangga pemasukan negara malah digratiskan. Ada apa dengan kepala anda pak Bupati (pernah terbenturkah?). Coba diperiksa, mungkin ada yang salah.

Seharusnya diajarkan dong pak rakyatnya agar taat pajak, beri pemahaman yang benar kalau fasilitas publik itu juga dibuat dari pajak mereka. Moga-moga kebiasaan merusak fasilitas agak berkurang.

ITU...!

3

Apa-apa Negara

Ketika kita memilih seorang pemimpin (Indonesia), selalu beriringan dengan harapan yang tidaklah kecil. Tentu harapan untuk menyelesaikan gugusan permasalahan yang ada.

Sejauh ini tidak ada yang salah, tentu saja dengan besarnya anggaran pemilu, hingar-bingan "pesta rakyat", tentu perlu untuk melekatkan sebanyak-banyaknya harapan kepada pemimpin yang terpilih.

Lalu masalahnya dimana bang?

Seringkali kita melekatkan harapan yang besar, namun tak seiring dengan rasa optimis yang sama besarnya. Optimis seperti kakek nenek kita optimis kepada pemimpin-pemimpin sebelumnya.

ITU...!

Masalah lainnya, karena KITA merasa setelah memilih pemimpin, segala masalah kita harus PEMIMPIN terpilih yang menyelesaikan. Dan jika ada yang tak beres, itu 100% kesalahan pemimpin. (logika berfikir dari mana ini)

kita yang buang sampah di sungai, tapi pemerintah yang kita sumpahi "lamban" mengatasi banjir. Kita yang jadi PNS karena suap, tapi pemerintah yang kita sumpahi lamban dan buruk dalam urusan layanan publik.


Atau hal yang baru-baru ini kejadian. Jika mau membaca solusi "cerdas" Puan Maharani Soekarnowiyyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, agar kita berdiet karena harga beras naik. Malah dibully oleh banyak orang. MIRIS.
Gue jadi ingat dengan Marie Antonoitte sang putri "penyebab" Revolusi Perancis dua abad yang lalu kala kelaparan melanda Perancis, mengucapkan : "QU'ILS MANGENT de la BRIOCHE" >> “kalau tak ada roti makanlah kue”.
Berhentilah menyalahkan pemerintah.

***

Masih ingat dong dengan mas mas ajaib pembuat mobil listrik pertama di Indonesia, atau si bocah ajaib dari malang yang udah hampir pasti akan berlaga di F1.

Mereka berdua biasa-biasa saja, namun banyak orang menyalahkan pemerintah dengan caci-maki setelah "mobil listrik" itu sekarang dibeli oleh Malaysia. Atau hampir saja si bocah ajaib itu gagal berlaga di F1. Seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan kecerdasan mereka.

Mari kita bandingkan dengan orang hebat lainnya (yang SUNGGUH terlalu cerdas), agar kita tahu letak salahnya dimana.

Mari belajar dari mas Zuckerberg, empunya situs yang bikin jari gatal kalo ngak dibuka dalam sehari itu.

Atau Om Steve Jobs yang super jenius itu (entah apa yang terjadi jika orang sehebat ini bisa hidup 50 tahun lagi) hehedengan brand miliknya yang bergambar apel digigit sedikit itu.

Saya baca bukunya dan juga nonton filmnya, tak pernah sedikitpun si Zuckerberg atau Om Jobs ini mengemis pendanaan kepada pemerintah untuk urusan ide yang mereka miliki. Mereka berjuang sendiri, menjual idenya. dan tadaaaaaaaaa.....! jadilah mereka orang yang sukses.


Jangan didebat ya,,, pleaseeee,,,

Pemirsahhhhh,
di sini sudah terlalu malam, dan mata saya mulai berkunang-kunang.

however,
Marilah berubah agar jangan terlalu memberatkan pemerintah. Mari berjuang sekuat tenaga dengan apapun kemampuan yang kita miliki untuk Indonesia yang lebih Bermartabat.

to be continued...

Minggu, 29 November 2015

Menabung Rindu


Surat untuk lelaki yg insya Allah akan jadi Imamku dan Ayah dari anak-anakku

Dari ribuan manusia yg berbahagia
Aku salah satunya
Dari ribuan alasan manusia lain berbahagia
Kamulah salah satunya

Tuhan menjadikanmu arah untukku mengenal diri
Menjadi tempat pulangku
Menjadi rumah dan menemani pulasku

Kau yang memilih lelah untuk membuatku bahagia
Kau yang memilih terluka dan senantiasa berkata 'semuanya baik2 saja'

Menemukan hati senyaman ini
Menemukan riuh rindu yang meluap sepanjang hari
Bulir-bulir bening tak perlu lagi melihat duniaku

Cukup suaramu tertawa
Seakan memaafkan waktu
Aku pun harus begitu

Ribuan mil dari ragamu
Aku memilih menunggu
Ketika kamu pernah berkata 'jangan kemana2'

Hanya do'a yg bisa ku kirimkan setiap harinya
Berbahagialah
Sepertinya halnya aku yg senantiasa bersyukur telah bertemu kamu
I U

#EW

*****


Aihhhh, siapa sangka si Sipit pandai bersajak. Sampai malu aku dibuatnya dengan kalimat-kalimat ini. Bisa jadi, kau lebih berbakat dariku dalam urusan merangkai kata. Jangan kemana-mana, tetap di situ. Seperti janjiku dalam kalimat sederhana semalam. Menunggulah, sungguh tak merugi orang yang menunggu, faham benar dengan hakikatnya dan tak menerabas batas.

to be continued...

Minggu, 15 November 2015

Pagi (sebuah elegi)

Pagi ini, sejak kemarin malah, banyak orang mengungah foto "pray for paris", DP facebook yang diubah dengan warna warni. Entahlah apa maksudnya. Mungkin semacam pernyataan sedih atau berbela sungkawa atas tragedi yang terjadi.

Segala hal kemudian menjadi menarik. Karena tragedi ini kemudian banyak dibanding-bandingkan dengan tragedi di Palestina. Sama-sama tragedi kemanusian, namun Tragedi di Palestina atau Afganistan  misalnya tidak mendapat banyak perhatian dari masyarakat Eropa. Itu bedanya.

Kemudian perbandingan ini semakin menjurus lebih jauh ke arah terorisme. Banyak yang kemudian menyesalkan, mengapa media melekatkan kata "terorisme" seolah-olah itu adalah milik Islam?

Okey. Mari kita buka sedikit jendela berfikir kita untuk melihat masalah ini dengan sebuah kalimat "selalu ada orang brengsek di berbagai agama". Entahlah, susah mencara kalimat yang lebih halus.

Adalah hal aneh, melekatkan kata "terorisme" kepada Islam hanya karena kelakuan beberapa orang brengsek yang mengatas namakan agama.

Saya tidak akan ikut latah membandingkan jika agama lain juga terkadang melakukan tindakan teror atau tragedi kemanusiaan. Karena membandingakan dua hal buruk, tidak akan membuat salah satunya menjadi benar.

Daripada sedih atau berbelasungkawa, ada baiknya kita marah. Marah kepada segala bentuk tragedi kemanusiaan yang terjadi di seluruh belahan dunia. Marah tanpa melihat apa agama mereka, tapi karena teror yang dilakukan sebagai manusia.

Pun juga ISIS, perang Irak, Palestina, Afganistan terlalu "luas" untuk diterka dengan secuil pemahaman kita dengan berbagai teori konspirasi.

Kemudian tudingan mengarah kepada Amerika, negara Barat, Israel yang menabuh genderang, menonton orang-orang brengsek tadi menari-nari dalam irama kematian. Ini adalah semacam cara untuk mencari simpati Masyarakat barat untuk kemudian menggunakan uang pajak mereka berperang di Syiria dan Iran nantinya.

Kita harus muak dengan berbagai konspirasi tingkat tinggi yang disuguhkan di depan mata. Namun tak benar-benar kita fahami. Entahlah, memahami teori konspirasi tingkat tinggi ini amatlah memusingkan.

Contoh konspirasi lain, para mujahidin yang berjihad dengan versi mereka tak benar-benar serius berjihad. Jika serius, mereka akan mati-matian di Palestina atau Afganistan. Bukan di tempat-tempat kaya minyak semacam Irak, atau Syiria.

Sekali lagi
Saya sedih, berbelasungkawa, tapi saya lebih muak.

...SKIP

Mari membahas hal lain yang lebih menenangkan, elegi lain di pagi ini. Tarik nafas, hembuskan. Buka PLAYLIST, arahkan kursor ke lagu Payung teduh -Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan. MAINKAN dan mari bernyanyi.

*****

Untukmu, perempuan yang (semoga bisa) ada dalam pelukan.

Pagi ini, bayangan tentang pernikahan menyeruak begitu saja. Seperti mountain rain yang datang di pagi cerah. Bersama dengan teduh dan kemurniannya yang menenangkan. Setelah berlalu, dia membawa semua resah, enyah.

Tentang perempuan yang mau memakai namaku di belakang namanya. Cantiknya nomer dua di dunia, kalah sedikit dengan Pevita Pierce. Namun segera menjadi nomer satu kala ia tersenyum. Perempuan yang memanggilku dengan kata "Abang". Perempuan dengat tekad yang kuat seperti baja, liat seperti tembaga. Namun meneduhkan seperti senja.

Pagi menjadi lebih berseri dengan segelas kopi darinya. Kuminum pelan sembari memperhatikan tiga anak berlarian di depan rumah lantai kayu dengan halaman luas. Sesekali si nomer dua usil menggoda si bungsu yang membuatnya menangis. Kemudian si Sulung menasehati agar jangan pernah membuat perempuan menangis. Si nomer dua meminta maaf dan mereka bermain kembali.

Di halaman yang luas itu ada 3 pohon besar dengan ketinggian berbeda. Itu semacam prasasti, ibunya ingin menanam satu pohon yang bisa berumur ratusan tahun ketika seorang anak lahir. Awalnya aku menggoda, dan dia diam hingga berhari-hari. Kutakatan, menanam pohon kelapa atau mangga mungkin lebih baik. Dia tak setuju dan mencakarku dengan diam. Kejam.

Di sebelah kanan rumah ada garasi kecil, tempat aku membuat beberapa karya dari kayu. Hasil dari belajar keras kepada tukang Amin. Beberapa peralatan masih tergeletak tak dibereskan. Begitupun sisa serutan kayu bertebaran di lantai. Aku janjikan akan membuat dapur baru untuknya.

Niatku melanjutkan kerjaan pagi ini, namun segelas kopi dan senyum si pujaan hati dengan perut buncit yang akan melahirkan si nomer 4 adalah dua kombinasi moment dengan nilai tinggi. Membuat lelaki manapun di dunia ini enggan untuk beranjak.

Imajinasi ini kemudian semakin jauh membawaku dalam lamunan.

Tentang taman yang kudesain sendiri. Sang pujaan hati menanam bunga. Di sampingnya kubuatkan kebun, kutanam berbagai sayuran karena kami berdua penyuka sayuran.

Tentang perempuan yang mungkin sekali-kali akan marah dan menghukumku dalam diam karena perilaku genitku, sehingga pagi berangkat kerja tanpa sarapan. Atau tidur di luar rumah.

Dan di malam hari sebelum gelap mengambil alih dunia dalam hening. Kutatap matanya dengan tanya "apakah engkau bahagia hidup denganku?"

Dia diam dan membalas dengan senyum terbaiknya. Kuartikan "AKU BAHAGIA".

Kawan, bayangan pernikahan, keluarga dan rumah sanggat menenangkan. Bagaimana jika benar terjadi?
Aihhh, membayangkan saja sungguh menenangkan, apalagii jika menjadi nyata.

(dibuat novel bagus kali ya)
ENTAHLAH


Senin, 02 November 2015

Nge-bully Senpai (sebuah persembahan)

dari kiri : Anjas, Dwi, Susi
Apa yang bisa dilakukan seorang junior tanpa senior?
Jawabnnya "tidak ada"

Entahlah
Sejak masa pelatihan, ingin kutinju wajah seorang senior yang mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang mengindikasikan seolah kita tak akan bisa melakukan apapun tanpa "mereka". Kalimat "menjijikan" yang waktu itu menurutku terlalu didewakan dan terlalu dipaksakan untuk kita amini.

Kemudian hari berganti dan gue mulai menyadari bahwa kalimat itu benar adanya. Bukan kalimat "kosong" yang didewakan tanpa benar-benar memiliki makna. Bukan "dogma" yang dipaksakan untuk ditelan walau kita tak begitu mengerti artinya. Ya, kalimat itu benar adanya.

18 bulan sudah gue di Jepang, mengais rejeki di negeri orang sebagai tukang Las. Sebuah pekerjaan yang menurut orang Jepang berada pada tingkatan tertinggi keahlian lapangan yang harus dimiliki. (ini kalimat Senpai, gue mah percaya aja). Sungguh, dengan beratnya pergantian musim, pekerjaan dan kehidupan kerja di Jepang, harus gue akui bahwa keberadaan seorang senior sangatlah penting.

Tanpa mereka, entahlah, mungkin kita hanyala orang kikuk yang terasing oleh zaman. Tanpa mereka, entah bagaimana caranya kita bertahan. Dan sebagai lelaki harus gue akui, keberadaan senior sungguh sangat penting. Mereka adalah jangkar dalam permainan American footbal, atau pemain tengah dalam sebuah tim bola. Mereka adalah segalanya.

Bahasan berat
Nangis di pojokan,,, hehehe

***

Anyway
Gue punya 3 ekor senior yang hari ini masih bertahan, tinggal mengitung hari menuju hari kepulangan ke Indonesia karena masa bakti (red : pertarungan) di Jepang hampir berakhir. Tulisan singkat ini adalah sebuah persembahan untuk mereka. Semoga persaudaraan ini akan abadi selamanya dan tak ada yang akan saling melupakan.

Kalo gue punya hutang tolong diingetin. Kalo Senpai ngerasa punya hutang, tolong jangan samapi ditagih. hohoho

Anjas Saputra

Senior yang baru gue kenal sekitar 1 tahun lalu. Sebelumnya bekerja di cabang lain perusahaan di kota Ota. Berkulit putih, tinggi dan berat badan proporsional. Jenis lelaki yang bisa membuat perempuan teriak histeris (dianggap maling jemuran). Konon menurut "news bird", dia masih bergaris keturunan dengan prajurit China yang dibawa oleh Laksama Cheng ho waktu mendarat di Semarang. Entahlah.

Jenis lelaki loyal dan sayang keluarga. Sangat mudah tersentuh jika berbicara tentang keluarga. Tentang kakaknya yang tidak sabar menikah padahal dia ingin berada di acara itu. Tentang ibunya, perempuan terbaik yang pernah dia miliki. Matanya selalu berkaca-kaca jika membahas keluarga.

Satu hal yang aku fahami, bahwa lelaki loyal cenderung pendendam menurut beberapa teori psikologi. Entahlah.

Aku pernah berkata kepadanya mengutip kalimat Yohanes Saputra yang wajahnya tak pernah ku kenal. Kubilang; hasil adalah bagaimana kita memperlakukan keadaan.

Kulanjutkan teoriku, kita boleh saja diprogram yang sama, jenis pekerjaan sama, waktu yg sama dan bahkan mendapat perlakuan yang sama. Tapi hasil yang akan kita peroleh setelah 3 tahun belum tentu sama. Tergantung bagaimana kita memberikan perlakuan terhadap keadaan yang kita hadapi.

Entahlah, dia takzim mendengar, dan tak kufahami artinya. Bisa saja dia berkata "bocah ini banyak sekali teorinya"

Super sekali...

hihihi

Dwi

Ini senior yang harus bertanggung jawab terhadap banyaknya tindakan nekat. Karena pertama kali gue mengenal istilah "tiket multi akiba" dari dia. Walaupun kemudian dia berkilah tak pernah mengajarkan hal buruk itu. 

Hey... belajarkan kan juga bisa dari melihat...

Senpai pertama yang membawa gue jalan ke Tokyo dan mentraktir makan di Sukiya. Harga yang cukup mahal waktu itu untuk kantong orang Indonesia. Walau sekarang akhirnya gue sadari, SUKIYA adalah makanan kelas warteg di Indonesia. hehe

Arigato

Jenis lelaki yang mudah "melebur" dengan keadaan. Mimik muka yang dibentuk sedemikian rupa, ekspresi "antusias" yang tentahlah mungkin saja dibuat-buat. Anyway, orang ini pendengar yang baik. Kadang kita berdebat tentang bagaimana cara mencari pasangan hidup, tentang sosial politik, apa saja yang penting bisa diperdebatkan.

Terakhir kami berdebat soal haram atau tidaknya rokok. Entahlah, dia selalu bertahan dengan argumen "banyak ustadz yang merokok". Dan gue bertahan dengan argumen "rokok haram karena menyebabakan banyak penyakit".

Anyway, sampai sekarang masih ngerokok.


Susi

Nama lengkap Susianto entah kenapa bisa bertransformansi menjadi Susi. Nama panggilan yang aneh untuk seorang lelaki dengan kulit yang lumayan eksotis. Akibat dari terlalu banyak diasapi oleh mesin las dan debu Grinda. hehe

Jenis lelaki yang tak banyak bicara. dan jenis lelaki seperti ini bisanya adalah adalah orang yang bijak. Entahlah bedanya terlalu tipis antara bijak dengan "tak tahu harus bicara apa". Karena orang bijak selalu tahu kapan harus bicara, bagiku senior yang satu ini cukup bijak.

Pacarnya memanggil dia TOYIP karena 3 kali puasa dan 3 kali lebaran ngak pulang-pulang. Tapi syukurlah "skype"an tetap berjalan. Jadi, rindu masihlah tersampaikan.

Senpai yang dengan gagah menemani petualangan ke Osaka dan Kyoto selama libur musim panas kemarin. Seharian di kereta, hampir bermalam depan stasiun karena ngak tahu harus bermalam dimana. Menjadi pahlawan di detik-detik terakhir karena temannya mau memberikan tumpangan untuk satu malam.

Berdebat soal jalur bis ke Kinkaku-ji yang akhirnya membuat kami berkenalan dengan seorang Ibu-ibu dari Korea. Niat hati biar bisa kenalan dengan anaknya, tapi karena tak cukup keberanian yang terkumpul. Jadilah sepanjang perjalanan bicara dengan emak-emak. hehe

***

Satu hal yang pasti, posisi  DAISENPAI (senior paling tinggi) akan berpindah ke Uzumaki Anggriawan ini. hohoho

Terlau banyak hal baik yang dilalui bersama, sehingga akan menjadi sulit mengatakan SELAMAT TINGGAL. dan semoga tulisan sederhana ini bisa mewakili banyak perasaan yang tak terucapkan.

Satu hal lagi
Kadang aku bertanya kepada mereka mengenai rencana kepulangan. Dwi berkata akan membuka restoran, temannya siap bekerja sama. Anjas berencana menikah, sudah terlalu rindu dengan pacarnya. Fotonya dipajang dimana-mana. Selain itu ingin melanjutkan memperbesar warung ibunya. Susi terlau pendiam dan tertutup dengan rencana setelah pulang.

Aku sedikit kecewa, karena tak ada satupun dari mereka yang berkata ingin melanjutkan kuliah. Menemukan apa yang menjadi "gairah" mereka lagi.

Fahamilah, bahwa hanya pendidikan yang mampu membawa kita keluar dari jerat setan yang bernama kemiskinan. Benar sekali, ada bnyak cara untuk belajar. Dan salah satunya adalah dunia perkuliahan. Jangan berharap kaya setelah lulus kuliah, tapi berharaplah agar bisa merubah hal yang paling penting yaitu POLA PIKIR. Itu mahal sekali harganya.

Satu hal yang pasti, di Jepang kita telah ditempa dengan sangat keras oleh keadaan. Yakinlah tak akan ada lagi rasa sakit yang mampu mengalahkan kita. Karena kita telah lalui yang terberat di sini. Dan anehnya kita bisa tertawa dan melebur bersama banyak "perih". Kalian pemenang yang sesungguhnya.

Apapun yang kalian lanjutkan setelah ini. sebagai seorang junior gue ingin memberikan sedikit petuah : Berjuanglah lebih keras dari biasanya dan jangan pernah menua bersama dengan hal yang tek berani kalian lakukan ketika muda.

SAYOUNARA...!!! Sampai ketemu lagi di Indonesia. Nikmatilah Merdeka.



|end|

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sebuah Sajak (bersamamu)


"Bersama" denganmu Cinta selalu berhasil kembali ke definisi awal mula Kikuk, malu, indah tak terperih "Bersama" denganmu Inginku pagi tak perlu datang Karena malam setelahnya mungkin tak lagi sama "Bersama" denganmu Waktu bersekongkol tak memihakku Berlalu dengan cepat Meninggalkanku meringkuk dalam angan Jika tak 'bersama' denganmu Malamku terbenam bersama pekat Susah payah Mengejar cahaya Tawa renyahmu diakhir kata semalam Dan "bersama" denganmu
Aku mengerti
Jarak tak akan pernah bisa dipangkas Tapi yang pasti "Jarak hanyalah permainan pikiran" Bagi orang yg faham

Jepang, awal November