Ingat teori tengil gue yang kira-kira begini; Lama pulang kerja berbanding lurus dengan Jumlah angka dalam selip gaji.
Nah, sekarang gue tambah satu teori baru lagi; lama pulang kerja berbanding lurus dengan jumlah postingan di Blog ini.
Nah artinya kalo gue bisa update kayak gini, duit tabungan buat nge-HALAL-in kamu jadi berkurang. ckckckck
Yesss. Catet...!
mari kita mulai, arahkan kursor ke lagu MAJU MUNDUR CANTIK miliknya Syahrini. Dendangkan....!!!
1
No Body Left Behind
Masih ingat dong sama berita yang sempat menjadi tagline berbagai berita online dalam negeri? Apaaaaa...! ngak ingat???
Dasar pemuda-pemuda apatis.
Hey, yang mana sih bang? Kasus papa minta pulsa? Atau curhatan Mulan Jameela yang diwawancara sama Om Deddy.
Bukan,,,, bukan itu, tapi rekaman percakapan artis Indra Bekti. hehehe
Alahhhh, ngomong apa sih ini, mari serius.
Berita yang gue maksud adalah tentang kereta JR Hokaido yang tidak jadi menutup salah satu stasiunnya karena masih ada seorang anak SMA yang sangat bergantung pada kereta itu.
SATU ORANG bro,,, dan pemerintah urung menutup stasiunnya.
Bayangan tentang tingkah angkot-angkot yang salip menyalip dan menaik-turunkan penumpang sesuka hati di Indonesia tiba-tiba menyeruak dalam fikiran. hehehe, no offense. Ini salah satu dari gugusan masalah pelayanan publik yang harus segera dibenahi di Indonesia.
Ok,,, Kembali ke Jepang lagi
Inilah artinya good governance yang masuk dengan benar dalam tingkat akar rumput. Setiap warga itu sangat penting. Tak ada anak yang boleh ketinggalan di belakang. Apalagi dalam urusan pendidikan.
Maka bukan hal yang aneh negara Jepang bangkit sejauh ini setelah hancur lebur pada tahun 45 dan kalah memalukan dalam perang dunia ke 2.
2
Pajak
Hidup di Jepang membuat gue sadar betapa memalukan kelakuan gue ketika masih hidup di Indonesia.
Di Jepang, kita harus membayar berbagai macam pajak dan asuransi dalam jumlah yang tidak sedikit. (berkurang deh tabungan buat mindahin anak orang ke rumah). Namun entah kenapa hati gue senang, ceria, tidak lagi gundah gulana... hehehe
Why?
Karena besarnya pembayaran pajak yang kita keluarkan sebanding dengan pelayanan yang kita dapatkan. Niat hati untuk merusak fasilitas umum jadi hilang karena kita merasa menyumbang dalam pembangunan fasilitas tersebut.
Nah, terkait hal ini gue agak gregetan (arahkan palylist ke lagunya Sherina)
Geregetan oh aku geregetan (sing)
emak gue nelfon, katanya bupati yang terpilih sekarang baik banget. Karena menggratiskan pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) kepada warganya.
Nah loh, mau jadi apa ini bangsa, setelah BBM dan listrik disubsidi, kini PAJAK juga yang seharusnya menjadi tiang penyangga pemasukan negara malah digratiskan. Ada apa dengan kepala anda pak Bupati (pernah terbenturkah?). Coba diperiksa, mungkin ada yang salah.
Seharusnya diajarkan dong pak rakyatnya agar taat pajak, beri pemahaman yang benar kalau fasilitas publik itu juga dibuat dari pajak mereka. Moga-moga kebiasaan merusak fasilitas agak berkurang.
ITU...!
Seharusnya diajarkan dong pak rakyatnya agar taat pajak, beri pemahaman yang benar kalau fasilitas publik itu juga dibuat dari pajak mereka. Moga-moga kebiasaan merusak fasilitas agak berkurang.
ITU...!
3
Apa-apa Negara
Ketika kita memilih seorang pemimpin (Indonesia), selalu beriringan dengan harapan yang tidaklah kecil. Tentu harapan untuk menyelesaikan gugusan permasalahan yang ada.
Sejauh ini tidak ada yang salah, tentu saja dengan besarnya anggaran pemilu, hingar-bingan "pesta rakyat", tentu perlu untuk melekatkan sebanyak-banyaknya harapan kepada pemimpin yang terpilih.
Lalu masalahnya dimana bang?
Seringkali kita melekatkan harapan yang besar, namun tak seiring dengan rasa optimis yang sama besarnya. Optimis seperti kakek nenek kita optimis kepada pemimpin-pemimpin sebelumnya.
ITU...!
Masalah lainnya, karena KITA merasa setelah memilih pemimpin, segala masalah kita harus PEMIMPIN terpilih yang menyelesaikan. Dan jika ada yang tak beres, itu 100% kesalahan pemimpin. (logika berfikir dari mana ini)
kita yang buang sampah di sungai, tapi pemerintah yang kita sumpahi "lamban" mengatasi banjir. Kita yang jadi PNS karena suap, tapi pemerintah yang kita sumpahi lamban dan buruk dalam urusan layanan publik.
Atau hal yang baru-baru ini kejadian. Jika mau membaca solusi "cerdas" Puan Maharani Soekarnowiyyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, agar kita berdiet karena harga beras naik. Malah dibully oleh banyak orang. MIRIS.
Gue jadi ingat dengan Marie Antonoitte sang putri "penyebab" Revolusi Perancis dua abad yang lalu kala kelaparan melanda Perancis, mengucapkan : "QU'ILS MANGENT de la BRIOCHE" >> “kalau tak ada roti makanlah kue”.
Berhentilah menyalahkan pemerintah.
***
Masih ingat dong dengan mas mas ajaib pembuat mobil listrik pertama di Indonesia, atau si bocah ajaib dari malang yang udah hampir pasti akan berlaga di F1.
Mereka berdua biasa-biasa saja, namun banyak orang menyalahkan pemerintah dengan caci-maki setelah "mobil listrik" itu sekarang dibeli oleh Malaysia. Atau hampir saja si bocah ajaib itu gagal berlaga di F1. Seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan kecerdasan mereka.
Mari kita bandingkan dengan orang hebat lainnya (yang SUNGGUH terlalu cerdas), agar kita tahu letak salahnya dimana.
Mari belajar dari mas Zuckerberg, empunya situs yang bikin jari gatal kalo ngak dibuka dalam sehari itu.
Atau Om Steve Jobs yang super jenius itu (entah apa yang terjadi jika orang sehebat ini bisa hidup 50 tahun lagi) hehe, dengan brand miliknya yang bergambar apel digigit sedikit itu.
Saya baca bukunya dan juga nonton filmnya, tak pernah sedikitpun si Zuckerberg atau Om Jobs ini mengemis pendanaan kepada pemerintah untuk urusan ide yang mereka miliki. Mereka berjuang sendiri, menjual idenya. dan tadaaaaaaaaa.....! jadilah mereka orang yang sukses.
Jangan didebat ya,,, pleaseeee,,,
Jangan didebat ya,,, pleaseeee,,,
Pemirsahhhhh,
di sini sudah terlalu malam, dan mata saya mulai berkunang-kunang.
however,
Marilah berubah agar jangan terlalu memberatkan pemerintah. Mari berjuang sekuat tenaga dengan apapun kemampuan yang kita miliki untuk Indonesia yang lebih Bermartabat.
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar